Destiny

Dua pasang mata telah duduk ber hadapan, rindu kian lama tumpah ruah dalam sudut cafe yang mulai sepi. Untuk beberapa saat mereka tak saling bicara, hanya memandang lekat satu sama lain. Takjub.

Sang lelaki dengan kemampuan photographic memory-nya mulai memutarkan masa-masa mencintai sang wanita di depannya, memutarkan harapan yang ia tanam, tumbuh tak beraturan semakin liar. Cintanya mungkin kuat, namun bukan sifatnya untuk mempertahankan yang tidak pasti. Sang lelaki menjauh dalam diam, berusaha melupakan setiap asa yang ia punya.

Sang wanita yang tengah menata hatinya, mengumpulkan kenangan apa yang hampir dia lupakan dengan lelaki di depannya. Mempertanyakan kekosongan yang merongrong kala wanita itu tidak ada. Hanya itu saja. Perasaan sudah dia simpan, logika yang ambil peran.

“Apa yang sudah saya lewatkan setelah sekian tahun tidak berjumpa dan berkirim kabar padamu, Laksmi?”

“Perlukah kuceritakan? Atau kalimatmu hanya sekedar basa – basi?”

“Basa – basi.” Mereka berdua tertawa.

“Damar, seperti inikah gayamu? Rapi?” Laksmi melempar pandang meneliti kepada lelaki di hadapannya, t-shirt berkerah biru muda, celana jeans biru tua, rambut cepak, sneakers merk ternama, dan wangi parfum.

“Kamu simpan di mana kaos superhero dan film favoritmu?” Damar diam sesaat.

“Sekarang saya mampu membeli setiap edisi kaos superhero itu, namun saya tak ingin mengenakannya hari ini.”

“Kemana janggutmu?”

“Sudah saya cukur sebelum ke sini.”

“Kemana jam tangan kartunmu?”

“Sudah saya buang.”

“Deadline kerjaanmu?”

“Kalau ada, mungkin saya sudah disuruh pulang karena menemuimu.” Mereka kembali tertawa.

Dua manusia melepaskan rindu tanpa sadar, menikmati setiap detik yang berpindah tanpa takut akan berakhir.

“Nilai filsafatmu jelek ya? Dari tadi saya tidak pernah mendengar kamu bertanya mengapa.” Ucap Laksmi, sambil menggenggam cangkir teh yang belum dia minum.

“Setelah bertahun – tahun aku melewati hidup tanpamu, semakin ke sini aku tak mau terlibat dalam setiap detil perubahanmu, termasuk tak berminat untuk bertanya mengapa pada setiap keputusan yang kamu ambil.”

“Tapi saya menunggu saat kamu bertanya mengapa.”

“Dulu, pertanyaanku kamu sia-siakan, tak pernah ada jawaban sedikitpun. Aku tak ingin mengulangnya.”

“Seberapa dalam luka yang saya torehkan?” Damar terdiam, tak bersuara.

“Seberapa keras kamu bertahan? Berapa kali kamu terjatuh karena saya? Berapa kali waktu yang kamu habiskan dalam jagat maya itu hanya untuk tahu saya sedang apa? Untuk semua hal itu, mulai detik ini saya bersumpah akan menebusnya, Damar.”

“Tidak perlu menebusnya, apa yang kamu ucapkan tadi sudah tidak penting. Aku datang ke sini untuk memenuhi permintaanmu. Menemuimu dalam keadaan sekarang yang mulai menyukai kaos polo, ketimbang kaos film favoritmu.”

“Benar hanya untuk itu?”

“Perlu dipertanyakan? Bodoh! Bila hanya untuk itu, melihat twittermu saja cukup.”

“Jika saat ini kamu meminta saya untuk tetap tinggal di sisimu, saya akan memenuhinya. Jika saat ini kamu meminta saya untuk bernyanyi lagu britpop kesukaanmu saya akan melakukannya. Jika saat ini kamu meminta saya mendengarkan ceritamu dari pertama kali kita tak saling bicara, saya akan mendengarkannya tanpa menyela sedikitpun. Saya kehilanganmu, saya rindu saat-saat dulu, maaf saya terlalu bodoh untuk membiarkanmu menghindar, menyia-nyiakan perasaanmu, sementara saya sadar ada ruang yang tersiksa, meminta diisi hanya olehmu. Apapun itu untuk membuatmu kembali saya akan lakukan. Saya mencintaimu.”

“Kalau begitu, berhenti mencintaiku..”

“Maksudmu?”

“Aku begitu mencintaimu, menginginkanmu, hingga setiap aku mengetahui kamu menjalin hati dengan lelaki lain, aku semakin putus asa. Aku sudah mengesampingkan segala perasaanku. Sudah saatnya kita menjalani hari masing-masing. Tanpa perlu bayang-bayang satu sama lain. Berhenti mencintaiku, karena aku sudah berhenti mencintaimu, Laksmi.”

Damar memberi sebuah undangan berwarna biru langit dengan gambar kedua awan bersisian bertuliskan namanya dan wanita lain.

“Be happy, Damar. Aku tetap jadi Laksmi. Laksmi yang sudah berhenti mencintaimu, tapi akan selalu jadi teman terbaikmu.”

Keduanya berpelukan, Damar tak ingin mengucapkan satu patah katapun, ini bukan jawaban yang dia inginkan. Semua tak lagi sama..

Taken from here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s