Excursion

Arya masih duduk di terminal bus sembari melihat orang yang berlalu lalang. Hari ini Arya akan pergi ke Jakarta dari Yogyakarta naik bus. Perjalanan ke sana kira-kira 12 jam. Dua belas jam perjalanan tidak menjadi masalah untuk Arya.

Jam di terminal menunjukan pukul tujuh malam. Setengah jam lagi bus siap untuk berangkat. Arya mencoba menahan rasa bosan dengan membaca buku dari Yann Martel sambil melihat orang di sekitar. Sepertinya perjalanan ini bisa dinikmati dengan sukacita dan penuh perenungan.

Di sinilah Arya berada. Lagu di headphone memainkan Many The Miles-nya Sara Bareilles. Duduk di atas bus menuju Jakarta. Bus pun berjalan perlahan-lahan,dengan resmi membuka perjalanan panjang ini. Ya,akhirnya Arya ke Jakarta juga. Ada dua alasan kenapa Arya mau menempuh perjalanan panjang ini. Yang pertama karena tiket pesawat cukup mahal di musim liburan .Yang kedua adalah karena Arya ingin di dalam bus selama 12 jam ini,tanpa bacaan,tanpa kerjaan, hingga akhirnya bisa memaksa untuk berpikir.

Ya,berpikir. Berpikir tentang patah hati yang lagi-lagi datang. Biasanya,sehabis patah hati, Arya akan bersedih-sedih sejenak dan ceria seperti sedia dulu kala. Tapi ini beda,kali ini Arya telah 3 tahun berpacaran dan putus dengan sukses. Apa yang salah?Arya memang membutuhkan waktu untuk mencari tahu apa yang salah. Sama seperti seorang karakter di salah satu novel Haruki Murakami, dia waktu itu pergi ke bawah sumur tetangganya yang kering untuk berpikir tentang hidupnya. Menemukan apa yang salah juga. Mengurung diri di tempat sepi. Di dalam gelap.

Arya kembali memandang ke luar jendela. Lampu jalan sudah mulai tidak terlihat dan perjalanan bus ini mulai masuk ke tempat-tempat luar kota yang gelap. Lagu di iPod memainkan For What It’s Worth-nya The Cardigans. Lagu ini membawa ingatan Arya ke setahun yang lalu.

***

Setahun yang lalu,Arya berdiri sambil menonton sebuah band yang beraliran blues yang lagi manggung. Di sampingnya ada Arlin,yang senantiasa menemani Arya sambil sesekali bersandar mesra di bahu Arya. Lagu lagu terakhir selesai dimainkan. Sang MC pun balik ke atas panggung dan mengumumkan bahwa band berikutnya yang akan tampil adalah  Klarinet. Salah satu band yang mereka berdua kagumi. Selang beberapa lama kemudian, For What It’s Worth dari The Cardigans dibawakan oleh Klarinet. Lagu itu sendiri adalah lagu kenangan saat Arya lagi suka-sukanya sama Arlin. Sepertinya malam sudah menstimulasi pikiran mereka,secara tidak sadar Arya dan Arlin ikut menyanyikan lirik lagu itu.Diiringi sayup-sayup sepenggal lirik yang mereka berdua ingat selalu membuat mereka ingin tetap bersama-sama hanya agar merasa hangat secara hati.

***

Arya menghela napas kembali. Bus sudah mulai gelap. Arya menocba melihat dari balik kaca. Semuanya terlihat gelap sehingga apa yang  Arya lihat di kaca hanyalah pantulan dirinya sendiri. Jumper hitam New York Yankee. Rambut berantakan. Celana jeans. Mirip seperti hubungan Arya dan Arlin dulu,hubungan yang sebegitu gelapnya padahal mereka berdua tahu,seandainya saja lampu bisa dinyalakan atau bulan lebih bisa diterangkan, maka mereka bisa melihat pemandangan yang bagus.

“Mungkin kita yang sudah meredup” ucap Arya dalam hati.

Pada hati.

“Pada kepercayaan yang sudah lama sekarat ,lalu mati diam-diam. Mungkin janji yang kita ucapin dulu bisa dengan gampang dilupakan setelah kita mulai membuat janji yang baru,janji yang juga tidak bisa ditepati” sambungnya lagi.

Arlin bilang waktu itu,masalahnya pada rasa. Rasa yang dulu itu bisa kita hadapi dengan angkuh tapi sekarang malah menjadi penyebab hancurnya hubungan ini. Mungkin perasaan yang sekarang lebih bisa menghancurkan dari apa yang Arya dan Arlin punya.

***

Bus telah sampai di Jakarta,di terminal Lebak Bulus tepatnya. Arya segera mengambil iPod yang berada di backpack hitamnya di bawah kursi. Arya melihat ke arah luar jendela,pemandangannya jadi jelas sekarang. Headphone di telinganya memainkan lagu But Not For Me dari Chet Baker

Although I can’t dismiss…

The memory of her kiss…

I guess she’s not for me….

Pemandangan jadi jelas di luar jendela. Bulan sudah tidak terlihat lagi. Dengan berakhirnya lagu ini,dengan terlihatnya kota Jakarta.

Arya sudah bisa melupakan Arlin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s