Glimmer

Seolah ada lampu sorot yang sengaja menyinari tubuhmu agar aku dapat dengan mudah menemukanmu, di antara berbagai pemilik punggung yang sedang berkumpul di tempat ini. Aku menangkapmu di pupil mataku, pula dirimu. Entah siapa yang terlebih dulu melempar senyum, kini yang aku tahu kita sudah duduk berdampingan di sebuah bangku kecil, jauh dari hingar-bingar band dan penontonnya.

“Maafkan aku,” katamu.

“Untuk apa? Menculikku dari keramaian?”

Kamu tertawa. Renyah, mengingatkanku pada gigitan pertama di chocolate chip cookies kesukaanku.

“Karena baru sekarang menemukanmu. Bagaimana bisa aku tak mengenalimu selama tiga tahun kita dalam circle pergaulan yang sama ?”

Aku tersenyum.

“Mungkin aku-yang-dulu tak memenuhi kriteriamu,” jawabku.

Kamu tersenyum.

“Kamu banyak berubah,” katamu.

“Kata-katamu barusan seolah kamu sudah memperhatikanku sejak lama, mengamati tiap perubahanku. Padahal…,” sengaja kugantungkan kalimatku seraya melirikmu nakal.

“Maka ijinkan aku memperbaiki kesalahanku di masa lalu. Ijinkan aku mengenalmu.”

Aku hanya bisa mengangguk saat sorot matamu yang teduh menerjang masuk ke pupil mataku, menyetrum syarafku, melebur menjadi satu di nadiku.

***

“Apa yang membuatmu berubah?”

“Karena aku lelah menjadi bayangan. Aku iri pada lampu sorot yang selalu menjadi tumpuan puluhan bahkan lebih pasang mata.”

“Well, kamu berhasil. Kini kamu mendapatkan sorot mataku.”

Aku tertawa mendengar perkataanmu.

“Gombal.”

“Aku serius.”

Lagi. Kamu berikan sorot matamu, melenyapkan segala aksara yang kuhafal. Kusandarkan kepalaku di bahumu, tempat paling teduh, menurutku. Kamu satukan jemariku dengan jemarimu, lalu mencium lembut punggung tanganku. Sisa malam itu kita lalui tanpa aksara, memberi kesempatan dua hati untuk melepas rindu dalam diam.

***

Tak ada lagi sorot matamu untukku. Tak ada lagi tempat paling teduh untuk ku bersandar. Tak ada lagi belahan jiwa yang melengkapi jemariku. Tak ada lagi pasang hati yang saling melepas rindu.

Kamu pergi membawa serta sorot matamu, meninggalkanku dalam gelap. Kelam.
Kini yang tersisa hanya sorot mataku, yang tertuju padamu. Hidup berputar, sekali lagi. Aku kembali menjadi bayang dari sebuah sorotan.

 

For all the things that you said
For all the lines that we played
For all the very best dates
How could you do this to me

The things we did to stay sane
The walks we had in the rain
The places we used to hang
How could you do this to me

Oh well
Look at me now I’m falling in pieces
I don’t know what to do now
I’m lost within this fire
Oh well
Look at me now I’m falling in pieces
I don’t know what to do now
I’m lost within this fire inside me

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s