Stupefy

I think that possibly, maybe I’m falling for you

Yes there’s a chance that, I’ve fallen quite hard over you

I’ve seen the paths that your eyes wander down I want to come too

Diam. Tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka. Laki-laki dan perempuan itu terlihat kikuk dan tidak nyaman. Berkali-kali mereka mencoba membetulkan posisi duduknya. Sang laki-laki menggaruk-garuk hidungnya dengan canggung. Sang perempuan memainkan jemari-jemari lentiknya.

“Kau tahu…” laki-laki itu membuka suara. “Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.”

“Aku juga.” Kata sang perempuan.

Diam. Mereka terdiam lagi. Bunyi gemericik hujan diluar sana mengiringi kebekuan mereka. Laki-laki itu melan ludah. Seakan ada seonggok kalimat yang ingin ia katakan, tapi tercekat begitu saja tak tahu bagaimana menyampaikannya. Tak berbeda jauh dengan perempuan itu. Ia memainkan ujung rok yang dipakainya. Merasa bingung harus bagaimana untuk bersikap.

“Perasaan ini membuatku bahagia.” Laki-laki itu menatap mata sang perempuan.

“Aku juga. Aku juga merasa bahagia.” Perempuan itu membalas tatapan sang laki-laki. Ia tersenyum lembut.

“Boleh aku bertanya sesuatu? Kau boleh menganggapku idiot atau bodoh atau apapun itu karena telah menanyakan hal ini.” Laki-laki itu terlihat gugup. Ia menggaruk rambutnya yang acak-acakan.

“Tentu. Dan, tidak. Aku tidak akan menganggapmu idiot atau bodoh atau apapun itu.” Perempuan itu masih menatap laki-laki di depannya itu.

Sang laki-laki berdeham. Ia menarik nafas panjang.

“Apakah kau…. Apakah setiap kali kau bersamaku, kau merasa jantungmu berdegup kencang seperti apa yang aku rasakan sekarang?”

“Ya.” Jawab sang perempuan.

“Lalu, apakah setiap kali melihatku, perutmu serasa digelitik seperti apa yang aku rasakan sekarang?”

“Ya.”

“Lalu, apakah setiap kali kau mendengar suaraku, ada bagian dari dirimu yang ingin menyimpan suara itu, untuk selalu kau bawa bersamamu…” laki-laki itu berhenti sejenak. “seperti apa yang aku rasakan sekarang?”

“Ya.”

Mereka terdiam lagi.

“Satu pertanyaan terakhir.” Kata laki-laki itu.

“Baik.”

“Apa kau tahu perasaan apa yang sedang kita rasakan sekarang?”

Perempuan itu memandang sang laki-laki penuh arti.

“Tidak. Aku tidak tahu perasaan apa ini. Aku tak pernah merasakan sebelumnya.”

“Aku juga.”

Laki-laki dan perempuan itu menutup percakapan. Rasa heran dan kosong menyergap benak mereka. Mereka dapat merasakannya. Merasakan perasaan bahagia itu. Tapi, mereka tak pernah tahu. Tak pernah ada yang tahu disebut apa perasaan itu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s