Eventually

Orang bilang saya terlalu lemah pada perempuan. Mereka bilang saya terlalu mudah jatuh cinta dan memberikan hati. Beberapa sisanya bilang saya tak bisa membedakan sayang, perhatian berlebih, nafsu, dan cinta.  Kalian boleh saja menganggap saya memang tak mengerti cinta sesungguhnya. Tapi lantas kenapa? Kalau saya dan perempuan yang saya cinta sudah sepakat saling memberi dan menjaga hati, bukanlah hal-hal lain bisa dipikirkan belakangan? Dengan cinta, kita bisa lakukan semua. Dengan cinta, tak ada yang tak seru. Semua kita jalani bersama. Pahit manisnya, hitam putihnya, baik dan buruknya. Sesederhana itulah pemikiran saya pada cinta.

Hingga malam itu kekasih saya mengajak bertemu. Kami adalah sepasang kekasih. Bukanlah hal yang luar biasa kalau di malam minggu seperti ini dia mengajak saya bertemu. Biasanya kami menonton film di bioskop, sering juga cuma sekadar makan malam sederhana di rumahnya, lalu nonton DVD, dan begitu jarum jam menunjuk angka 11, saya berpamitan pulang. Tentu saja setelah mencium lembut bibirnya.

Tapi kali ini beda. Dia mengajak saya bertemu di toko kaset. Saya sering sekali lewat jalan ini. Tapi entah kenapa baru sekarang saya sadar kalau di sini ada toko kaset. Kira-kira seperti ini gambarannya. Dinding depan toko ini dicat coklat, ada jendela kaca besar bertuliskan ‘Recordia’, empat dinding dalam ruangannya yang dicat warna berbeda, satu etalase besar di tengah ruangan berisi banyak kaset, CD, dan majalah musik, dan tiga rak yang berisi piringan hitam musik-musik klasik dengan cover yang sudah kusam warnanya.

“Kenapa semalam nggak menelepon?” kekasih saya akhirnya memulai pembicaraan.
“Aku banyak kerjaan, sayang.”
“Tapi pulsa juga banyak kan?”
“Semalam aku menelepon kok. Kamu sudah tidur.”
“Kenapa nggak telepon lebih awal?”
“Oh. Jadi gara-gara ini seharian ini kamu jadi diem nggak jelas?”
“Yang nggak jelas itu kamu!”

Oke. Ini dia. Kekasih saya yang tukang ngambek ini mulai mengeluarkan kalimat-kalimat yang menjurus ke arah pertengkaran kecil dan tidak penting. Tidak tidak. Saya tidak boleh terpancing. Saya harus membujuknya. Saya harus minta maaf. Mengajaknya makan mungkin adalah hal yang bagus. Siapa tahu setelah kenyang dia jadi berkurang marahnya.

“Kita makan dulu yuk.”
“Nggamao.”

Yeah! Yeah! Rupanya dia setingkat lebih ngambek sekarang.

“Kita makan nasi goreng yuk.”
“Nggak.”
“French fries McDonald deh.”
“Nggak.”
“Es Krim! Es Krim!”
“Nggak.”
“Bubur ayam?”
“!@#$%^&*”
Kurang lebih begitulah kejadiannya. Setelah dialog di atas sebenarnya masih banyak lagi kalimat-kalimat pembelaan saya yang dimentahkan begitu saja oleh pacar saya yang cantik tapi tukang ngambek ini. Tapi menuliskannya di sini? Oh tidak bisa. Ini sudah masuk ranah pribadi kami. Masalah saya dan kekasih saya seharusnya hanya diketahui kami berdua. Kalian tidak perlu tahu banyak. Lagipula tadi juga sudah saya ceritakan sedikit kan?

Jadi inilah akhirnya. Kekasih saya yang cantik, tukang ngambek, dan suka membuat orang bingung itu balik kanan, kemudian berjalan keluar dan meninggalkan saya yang terbengong-bengong tanpa sepatah katapun.

“Saatnya kuberkata. Mungkin yang terakhir kalinya..”

Ah ya. Ah ya. Ah ya. Toko kaset ini memutar lagu yang tepat di saat yang kurang tepat. Ini lagunya Peterpan bukan? Kalau tak salah lagu ini muncul sekitar tahun 2004, atau 2005 ya? Saya tidak ingat.

“Lagu ini,” tanyaku pada gadis yang sedari tadi berdiri di balik meja kasir. “Apa judulnya?”
“Mungkin Nanti, Peterpan.”
“Hmm..”
“Mungkin saja kau bukan yang dulu lagi,” gadis itu bersenandung pelan mengikuti lagu.
“Mungkin saja rasa itu telah pergi,” lanjutku sambil tersenyum.

Aku membalikkan badan dan mulai berpikir untuk mengejar pacarku yang mungkin belum jauh dari sini. Masih terdengar jelas suara gadis penjaga kasir itu menyanyikan bait pertama di bagian reff.

“Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi..”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s