Premonition #3

Damar
Sini gue ajarin sesuatu. Setiap laki-laki,betapapun brengseknya,betapapun sudah tidak terhitung lagi berapa perempuan yang sudah dia tiduri, pasti punya satu perempuan yang dia anggap seperti gunung Everestnya. The one he really wants to climb. Shit,I’m sorry, that sounds wrong ya. Maksudnya begini, satu perempuan itu ibaratnya gunung Everest bagi si pendaki, rasanya hidup belum lengkap kalau belum pernah menaklukan puncak gunung yang ini. That still sounds wrong?Yeah well, I’m kind of terrible person at analogy. Gini deh gampangnya : satu perempuan yang sebenarnya dia cintai setengah mati di luar semua wanita yang pernah dia tiduri itu. The one that is not just statistic. Buat gue,perempuan itu Laksmi Mau tahu kenapa definisi Everest bagi gue itu adalah dia?Gue tidak pernah menghitung berapa wanita yang udah gue gue tiduri tapi gue menghitung dan mengingat berapa kali dia tersenyum karena gue, di dua setengah hari kami bersama saat malam tahun baruan. Cuma ada gue yang pasrah mengikuti maunya dia kemana aja di Ayana. Gue pernah mengusulkan supaya kami sekamar aja di Ayana untuk menghemat, dia melotot dan menolak mentah-mentah.Malam itu dia tidur dengan piyama lengkap,tetap ngomel-ngomel sampai dia capek dan tertidur sendiri. Laksmi,you know what I’m thinkin now? Dalam hampir delapan bulan sejak terakhir gue melihat lo dan lo melihat gue, lo pernah inget gue gak sih?

Laksmi
Aku cuma perlu menghilangkan suara-suara monolog di dalam kepalaku.Setan- setan di kepalaku ini suaranya makin riuh dan makin keras begitu tadi aku menyetir melalui jalan-jalan kecil macet di Denpasar. Semuanya membisikan kalimat ini berulang-ulang “Masih ingat gak terakhir kali ke nasi Wardani sama siapa?” Sekarang setan-setan itu kembali berbisik “Masih ingat gak terakhir kali menginap di Ayana sama siapa?” Setan-setan ini terlalu pelupa bahwa aku mempunyai photographic memory. Of course I remember every little detail. Tapi aku terlalu cinta nasi Wardani dan Ayana untuk membiarkan kedua tempat ini diasosiasikan dengan lelaki brengsek yang terobsesi dengan  bahasa Sansekerta yang akan aku benci sampai kapanpun itu. But apparently,this is my life has come down into this evening. “Nama Ayana itu berasal dari bahasa Sansekerta,artinya ‘tempat pengasingan’“. Oh the irony,bahkan dalam tempat pengasingan ini hanya bisik lirih Damar yang kuingat.

Advertisements

One thought on “Premonition #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s