Poringger

“Hai.”

Dia belum berubah. Kepalanya yang sedari tadi terpaut dengan gadget mendongak begitu aku menyapa. Kami beradu pandang selama beberapa detik, sebelum dia melambai dan aku duduk di hadapannya.

Ajaib sekali. Biasanya dia yang terlambat.

“Macet?” tanyanya setelah menaruh gadget-nya di ransel. Seharusnya itu pertanyaanku dan anggukan yang kuberi selalu menjadi jawabannya dulu.

Aku menghela napas panjang. Di sepanjang perjalanan tadi, aku yakin ada ratusan pick up line yang tersusun di dalam kepala. Sial, semuanya berceceran.

Hampir, karena ada satu yang selamat.

“Apa kabar?” tanya dirinya, nyaris merintih.

“Lumayan baik. Baru ke dokter buat cek kondisi terakhir.”  aku tersenyum sambil mengelus dada ku yang terbungkus hoodie cokelat. Mataku nanar melihatnya sejenak, sebelum memberanikan diri untuk kembali menatap wajahnya. “Jadi, kamu mau kasih lihat apa?”

Sebagai pihak yang membuat janji, dia langsung membongkar totebag dan mengeluarkan sebuah lunch box berwarna ungu. Alisku terangkat penasaran. Dengan kepala yang agak dicondongkan, aku memperhatikan saat dia membukanya perlahan.

“Wah.” aku membetulkan letak kacamataku. “Apa ini? Siapa yang bikin?”

“Aku juga nggak tahu harus sebut apa. Monster omelet mungkin?” Dia tertawa miris. “Dua telur, tomat giling, sedikit terigu….”

Dia mengambil sendok dan kemudian berkata. “Cobain mau  ya?”

Seharusnya aku tidak melakukan ini. Maksudku, merekam setiap gerak saat dia menyendok monster omelet, menyuap ke mulutku, dan mengusap pelan remah-remahnya dibibirku. Kedua tanganku terkepal di bawah meja. Tidak, jangan sekarang, batinku. Tapi, semakin kuat mataku merekam gerakan tangannya, semakin kencang degup hati ini terasa. Bahuku berguncang. Dia terus menyuapiku. Sesekali melontarkan gumaman.

Sampai di suapan terakhir, dia terisak. Sendoknya nyaris terlepas.

“Kamu kenapa?” tanyaku, setengah berbisik.

Inilah alasan kenapa aku yang menentukan tempat untuk bertemu di kafe kecil yang sepi. Aku yakin akan ada yang  meledak–bahkan setelah merasa amat yakin bahwa kita sudah saling pergi. Nyatanya, kami berdua sudah runtuh sejak memasuki kafe.

“Aku…” Dengan cepat, aku menyeka air mata dengan tisu. Pelan-pelan menenangkan diri meski suaraku masih bergetar. “Aku cuma pengin kamu tahu kalau… kalau dulu–” waktu kita masih pacaran “–aku belajar masak gara-gara kamu suka nanya terus.”

“Nanya kamu bisa masak atau nggak?

Dia mengangguk.

Aku tertegun. Mataku mengamati lunch box sejenak sebelum menatapnya kembali. “Enak. Walaupun aku nggak tahu apa namanya.”

Badannya kembali bergetar.

Pertanyaan itu membuatnya  untuk terjun ke dapur. Menaklukan kompor, api, minyak, air, dan kawan-kawannya. Dia selalu menanti-nanti momen yang tepat untuk memberiku jawaban dengan satu jenis makanan.

Sayang, semuanya sudah terlambat.

“Aku nggak tahu kalau kamu sampai melakukan hal ini,” kataku dengan tatapan sendu. “Tapi–“

“Ini bukan permintaan buat mengembalikan hubungan… kita,” potongnya cepat. “I just want you to know. Kamu membawa pengaruh besar untukku.”

Lalu, aku melihat gurat kepedihan dalam tatapannya.

“Maaf,” kataku tiba-tiba.

Kami tahu, tidak ada yang bisa diselamatkan lagi. Bahkan untuk satu detik pun. Aku juga tahu, jika kami terus bersama, akan ada banyak luka yang muncul.

“Terima kasih,” ujarnya. Kali ini, dia yang tampak bersalah. “Tidak ada yang pernah seserius kamu sebelumnya. Apalagi untuk menanggapi pertanyaan itu.”

Kami geming. Dia mengambil lunch box tadi dan menjejalkannya kembali ke dalam totebag.

“Aku senang kamu mau mendengarkan ceritaku tentang hal ini.” ucapnya terisak

Aku menghela napas. Kemudian berkata “You know I loved you.“

Dia hanya bisa menyunggingkan senyum.

Sementara aku masih terlalu menyayanginya.

“Sukses, ya,” pesannya sebelum dia beranjak dari kursi. “Buat aku bangga.”

Air matanya kembali meleleh. Sebelum ia berkata,

“I loved you, too.“

Bagiku, kata-kata tadi terdengar seperti kalimat perpisahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s