Recur

“Ma, aku berangkat ya.”
“Jadi pergi sama Reta?”
“Iya ma. Ini mau jemput.”
“Salamin ke dia ya.”
“Pasti! Assalamualaikum”
“Waalaikum salam.”

Namaku Bramasetya. Mahasiswa semester akhir jurusan ilmu sosial dan politik di sebuah universitas ternama di Bandung. Reta, nama yang tadi disebut itu,yang mempunyai nama lengkap Claretta Tatwa Anggraini adalah perempuan teman kuliahku. Ya, teman. Tapi kami sering sekali berduaan, di kampus, di mall, di cafe. Reta anaknya manis dan punya wawasan luas. Karena itulah aku bisa betah berjam-jam menemaninya berbelanja baju atau sekedar minum es krim. Aku seolah sangat nyaman dengan kehadirannya dalam hidupku. Sepertinya mamaku juga. Kalau Reta sudah jarang ke rumah, mama pasti rajin menanyakan dirinya, bahkan beberapa kali menelepon langsung dengan alasan sudah kangen. Seandainya kami pacaran, mama pasti sudah memberikan restu untuk menikah.

Pacaran? Hampir semua orang yang melihat kami berduaan pasti menyangka kami pacaran, mengingat kedekatan kami. Tapi sebenarnya kami hanya berteman. Ya, berteman. Meskipun aku punya perasaan yang lebih dari itu, tapi aku tak tahu apa dia juga punya rasa yang sama. Aku tak pernah menyatakan rasa ini, karena aku takut dia menolakku dan hubungan kami jadi renggang. Tapi aku juga merasa sakit hati dan cemburu ketika dia dekat dengan laki-laki lain. Aku tak tahu, mungkin memang sudah waktunya aku memperjelas status kami.

Di jalan ke rumah Reta, aku kembali melamunkan dirinya. Rambutnya yang hitam dan lurus, senyumnya yang selalu mengembangkan lesung pipit, suaranya yang tegas tapi merdu, obrolan-obrolan penuh makna kami di cafe-cafe maupun warung pinggir jalan, dan banyak hal lain yang tentunya aku suka dari dirinya. Bahkan hanya memikirkannya pun sudah membuatku tersenyum lebar. Ah, seandainya panah cupid diberikan padaku, tentu langsung kuhunjamkan satu anak panahnya ke jantung hati Reta.

******

“Jadi, hubungan kita sebenernya kaya’ gimana sih?” tanyaku pada Reta malam itu di sebuah restoran fast food.
“Maksudmu gimana? Kita ya temenan doang lah” jawabnya sambil mengelap mulutnya yang belepotan sambal.
“Cuma teman nih? Nggak lebih?”
“Emang kamu ngerasanya gimana?”
“Ya aku sih ngerasanya kita ada hubungan lebih dari sekedar teman. Kita sering berduaan meski itu sekedar makan atau sekedar jalan-jalan berdua gak tentu arah. Kaya’nya kalau sekedar teman nggak ngelakuin hal kaya’ gitu deh.”
“Ngelakuin kok. Buktinya ya kita ini kan.” jawabnya tak mau kalah.
Jawabannya membuatku agak terpukul. Meskipun kemungkinannya tak banyak, tapi aku juga mengharapkan jawaban yang lebih dari sekedar teman. Pikiranku mendadak kosong. Bahkan mengingat berapa harga burger yang barusan kumakan saja membutuhkan waktu cukup lama. Aku hanya memandangi wajah manis itu.

“Kenapa ngeliatin terus?”
“Well,I love you. Ret”
“You what?”
“I love you! Aku yakin banget,perasaanku ini bukan cuma sekedar perasaan seorang temen”
“Why?”
“Have no idea,I love you for no reason I guess”
“Sorry. You’re right, seorang temen emang gak seharusnya sedekat ini.”
“So,you’re gonna leave? Please don’t! I need you”
“Don’t tell me you need me if you’re not gonna stay.”
Reta lalu terdiam. Hingga kami keluar dari restoran itu dan kuantar dia pulang, kami tetap tak berbicara sepatah kata pun. Sepertinya diam menjadi bahasa baru kami. Sempat kulirik wajahnya, ada setitik air mata yang menetes perlahan.

******

Sejak saat itu, hubungan kami benar-benar merenggang. Sms dan telepon yang biasanya sering sekali, kini menjadi amat jarang. Kami cenderung saling menghindar. Aku, lebih tepatnya memutuskan untuk tidak berdekatan dengannya setelah hari itu,karena hanya akan menambah sakit hatiku. Hingga tepat berbulan-bulan setelah kejadian tersebut dia kembali menghubungiku. Namun sms nya kali ini membuatku berada dalam dilema. Dia menyuruhku mengangkat teleponnya. Penting, katanya. Setelah menimbang sekian lama, akhirnya aku luluh juga dan menerima telepon dari Reta.
“Halo” jawabku datar.
“Bram, tolong dengerin aku ya. Beberapa bulan ini aku tersiksa banget nggak ada kamu di deketku. Nggak ada yang nemenin makan, nggak ada yang bisa diajak ngobrol seru. Nggak ada yang ngirimin pickup line pickup line konyol lagi. I miss you. I miss us.” ujarrnya panjang lebar dengan suara lemas.
“Knock it off! Aku nggak mau ngulang lagi. Yang pernah ada di antara kita anggep aja masa lalu”
“Tapi aku bener-bener butuh kamu!”
“We’ve done this once then you closed the door . Don’t let me fall again for nothing more.”
“Ya sudahlah. Terserah kamu. Tapi in case kamu peduli sama aku….” Dia mengambil jeda sebentar untuk batuk lalu kembali melanjutkan ucapannya.
“Kamu bisa menemui aku di kamar 205 paviliun Garuda.”
“Kamu masuk rumah sakit?” tanyaku mulai panik.
“Iya. Sejak hari..” Ucapannya terputus. Rupanya baterai telepon seluler Reta habis.
Aku jadi panik setengah mati, berusaha menghubungi ponselnya tapi tak kunjung dijawab. Setelah berpikir sejenak, kuputuskan untuk segera ke paviliun itu menemui Reta.Air mataku jatuh dengan derasnya membayangkan tubuh Reta yang biasanya tangguh, kini harus tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Makin deras lagi ketika memikirkan perasaanku yang tak terbalaskan.

******

Sampai di rumah sakit, jantungku berdegup tak karuan. Berkali-kali kurapalkan doa memohon keselamatan baginya. Aku tak peduli lagi, meskipun dia tak menganggapku lebih dari teman, tapi aku sudah menemukan rumah di dalam hatinya. Dan itu hal berharga yang tak ingin kulepaskan lagi. Setelah kutemukan kamar 205, perlahan kubuka pintunya. Kosong. Segera kutanyakan pada suster, barangkali kamar Reta dipindah atau salah memberikan nomer kamar.

“Mbak Reta? Claretta Tatwa Anggraini yang jadi korban tabrak lari itu?” Astaga! Rupanya dia jadi korban tabrak lari! Dadaku langsung panas.
“Iya, sus. Dipindah ke mana ya?” tanyaku panik.
“Maaf mas. Tapi mbak Reta nya…. Dia… Sudah meninggal dari tadi siang. Cuma sempat di UGD beberapa menit lalu nyawanya tak berhasil kami tolong.”
Lututku langsung lemas. Reta yang kusayang sudah meninggal. Lalu siapa yang meneleponku kurang dari sejam yang lalu?
“Mas yang namanya Bram ya?” tanya suster itu kemudian.
“Iya. Kenapa sus?” jawabku heran, sambil menghapus air mata dengan lengan kemejaku.
“Tadi di UGD mbak Reta pesan buat mas Bram”.

Katanya : I love you too.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s