Cessation

“Kamu suka The Script?”

Suara seorang pria tiba-tiba saja mengejutkanku. Suaranya terdengar keras sekali walaupun aku sedang menggunakan headset.

Aku mengedarkan pandanganku, tidak ada orang lain di sekitar kami, hanya ada aku dan pria itu. Berarti sudah jelas dia sedang berbicara denganku.

Aku pun menoleh ke arahnya ragu-ragu, dan mengangguk kecil. Aku tidak berniat untuk melakukan pembicaraan panjang lebar dengannya, karena sejak kecil aku diajari untuk tidak berbicara dengan orang asing, apalagi di tempat-tempat rawan pencopet seperti di halte bus ini.

“Saya juga suka.” Lanjut pria itu.

Aku terdiam, menundukkan tatapanku ke arah layar ponsel yang menunjukkan sedang diputarnya sebuah lagu dari The Script – The Man Who Can’t Be Moved.

“Lagu itu bercerita tentang seorang pria yang setia menunggu kekasihnya di tempat yang sama seperti waktu pertama kalinya mereka jumpa.” Pria itu menunjuk layar ponselku dan tersenyum getir, “Tapi hal-hal semacam itu menurut saya hanya ada di lagu saja. Tidak ada yang sesetia itu untuk terus mencintai satu orang yang sama, apalagi yang sudah menyakitinya.”

Aku tertegun sejenak, tanpa sadar aku sudah lebih memperhatikan apa yang sedang diucapkan oleh pria itu daripada lagu yang sedang dilantunkan oleh Danny O’Donoghue ini. Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja aku merasa ingin berbincang-bincang dengannya. Akhirnya aku melepas headset­ku dan mengikuti arah pembicaraannya.

“Lebih tepatnya mantan kekasih.” Aku tersenyum ke arahnya, dan mengoreksi analisanya mengenai lagu yang baru saja kudengar.

“Ah ya, maksudku mantan kekasih.”

“Menurutku hal itu tidak benar, mengenai hal semacam itu hanya ada di lagu.”

“Kenapa begitu?” Tanyanya, “Menurut saya hal itu bodoh, menunggu seseorang yang jelas-jelas sudah melupakannya. Sia-sia, percuma.” Pria itu tertawa kecil, menekankan dua kata terakhir seolah kata-kata itu ditujukan untuk dirinya sendiri.

“Beberapa orang memang tidak bisa begitu saja membenci orang yang mereka cintai, walaupun sudah disakiti dan dikecewakan.”

“Tetap saja bodoh. Bukannya melanjutkan hidup dan membuat mereka yang meninggalkan itu menyesal.”

“Kau tidak pernah jatuh cinta.”

“Jangan salah menilaiku.” Pria itu tersenyum, “Mereka yang terlihat skeptis terhadap cinta itu justru mereka yang pernah mati-matian jatuh cinta, dan terluka.”

“Jadi, kamu ini sebenarnya sedang patah hati?”

Sebelum ia sempat menjawab pertanyaanku, sebuah bus nampak dari kejauhan. Aku pun segera berdiri meskipun sebenarnya aku masih merasa penasaran, “Saya duluan ya. Kamu tidak naik?”

Pria itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “Tidak. Saya sedang menunggu kekasih saya.”

Aku menatapnya heran, dan segera naik ke dalam bus sambil melambaikan tangan ke arahnya, “Duluan ya!” Pria itu balas melambaikan tangannya, menyisakan sebuah pertanyaan yang tak sempat terjawab.

Aku pun segera duduk di bangku paling depan yang hanya ditempati oleh seorang perempuan seusiaku. Dan ketika aku baru saja duduk di sebelahnya, aku mendapati perempuan itu sedang menatapku keheranan.

“Tadi berpamitan pada siapa, Mas?” Tanyanya.

“Err.. teman saya.”Jawabku, agak ragu. Karena sebenarnya orang yang baru saja ku ajak berdiskusi tanpa saling menyebutkan nama itu belum bisa kusebut teman.

“Laki-laki?”

Aku mengangguk perlahan, “Memangnya kenapa?”

“Maaf, saya tidak bermaksud menakut-nakuti Mas, tapi..” Perempuan itu menghela nafas panjang, “Beberapa hari yang lalu, di sekitar halte bus itu ada seorang laki-laki yang meninggal dunia karena tertabrak bus.”

Dheg.

Tiba-tiba saja jantungku seolah berhenti berdetak, “Ah, Mbak bercanda..”

Perempuan itu menggelengkan kepalanya, “Menurut kerabat korban, laki-laki itu memang sudah lama sekali tidak pulang ke rumahnya. Dan banyak saksi yang mengatakan bahwa mereka sering sekali melihat laki-laki itu duduk di halte tanpa pernah menaiki satu pun bus. Laki-laki itu hanya duduk disana, seperti menunggu seseorang.”

Aku terdiam sejenak, “Be.. begitu?”

“Ya, begitu yang saya dengar, Mas..”

“Oh..” Aku menatap jalanan di hadapanku dengan tatapan kosong, siapa yang baru saja kuajak bicara barusan? Seorang pria yang terlihat skeptis terhadap cinta, namun ternyata dia jugalah yang mati-matian mencintai seseorang sampai kematian memeluknya.

Sia-sia, percuma.

Tiba-tiba saja dua kata yang tadi diucapkan oleh pria itu berputar berulang-ulang di telingaku.

“..People talk about a guy who’s waiting for a girl,

there are no hole in his shoes, but a big hole in his heart.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s