Allure

“Kalungnya bagus,” ucapku sambil tersenyum. Ekor mataku bergerak ke mata kalung berwujud dewa Ganesha yang menempel tepat di atas dadanya. Perempuan cantik yang berteduh di sebelahku itu mengisap rokoknya dalam-dalam, mengembuskan asapnya dengan nikmat. Samar aroma strawberry kemudian memenuhi udara.

“Kau tahu,” ujarnya tanpa melihat ke arahku. “Baik buruknya perempuan sebenarnya bisa dilihat dari matanya. Tapi sayang kebanyakan laki-laki lebih memperhatikan dada..”

“Oh ya?” tanyaku. Buru-buru aku mengalihkan pandangan. “Untung aku cuma memperhatikan kalung.”

“Kau tahu kalung ini?

“Ganesha,” jawabku yakin. “Putra Dewa Siwa dan Bethari Durga. Berwujud manusia dengan kepala gajah. Dipercaya sebagai dewa ilmu pengetahuan dan keberuntungan. Gading sebelah kanannya patah. Di tangannya ada sebilah kapak, tangan satunya memegang…”

“Ya.. ya.. Cukup,” potong perempuan itu. “Ada banyak versi dan cerita tentang Ganesha. Bahkan Ganesha yang menjadi logo ITB juga artinya beda.”

“ITB ya..” aku tercenung. “Sudah lama sekali aku tidak main ke Bandung.”

“Pernah patah hati di sana?”

“Tepatnya jatuh cinta dan patah hati,” jawabku. “Di Bandung jatuh cinta dan patah hati selalu terasa lebih dramatis berkali-kali lipat.”

“Hahaha..”

“Perempuan Bandung cuma ada dua macam. Cantik, dan cantik banget.”

“Itu kalimat gombal standar untuk menggoda perempuan Bandung kan?”

“Kamu dari Bandung?”

“Bukan,” dia menggeleng. “Mantan pacarku yang orang Bandung.”

“Oooh.. Sudah mantan.”

“Begitulah,” dia tersenyum tipis dan tanpa beban. “Kami berpacaran hampir dua tahun. Yang terlama dibanding pacar-pacarku sebelumnya. Pacaran jarak jauh, komunikasi tiap hari cuma lewat telepon dan video call, kangen-kangenan dan berantem juga jarak jauh. Kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan. Bertemu sebulan sekali hanya untuk.. ya kau tahu sendiri lah..”

“Tapi menurutku Jakarta-Bandung bukan LDR.”

“Kok bisa?”

“Disebut LDR jika dan hanya jika jarak dua kota memakan waktu 7 jam perjalanan darat, atau lebih dari 500ribu untuk tiket pesawat.”

Dia kembali tersenyum. “Jarak ternyata memang bisa jadi musuh berbahaya ya..”

“Sama sekali tidak,” aku menggeleng tegas. “Musuh terbesar sebuah hubungan adalah curiga dan rasa tidak percaya.”

“Teorinya memang seperti itu. Mengatakannya mudah. Tapi menjalaninya sama sekali tidak mudah.”

“Aku nggak bilang itu mudah sih..”

“Sulit,” bibirnya yang basah kembali mengembuskan asap beraroma strawberry. “Menjalaninya jauh lebih sulit. Faktanya, kedekatan psikologis ternyata memang membutuhkan kedekatan fisik.”

Sebuah nada dering kemudian terdengar. Ada panggilan masuk di handphonenya. Dari sudut mataku kulihat dia hanya diam memandangi nama yang tertera di layar, sebelum kemudian jarinya menekan tombol reject.

“Mantan pacar kamu?”

Perempuan itu mengangguk. “Dia selalu begitu. Kembali di saat yang tidak tepat. Hanya untuk meminta maaf dan mengatakan hal-hal tidak penting.”

“Apa susahnya memberi maaf?”

“Ini lebih dari masalah itu. Kamu nggak akan mengerti.”

Aku terdiam dan langsung menyadari bahwa kalimatku barusan memang kurang pantas. Buru-buru aku mengalihkan pembicraan. “By the way, handphonenya bagus.”

“Kau tahu handphone ini?”

“Sony Xperia Z3,” jawabku. “Baru kulihat kemarin malam di situs resminya. Tahan air dan debu dengan sertifikasi Display berteknologi Bravia Engine 2, kamera 20 megapixel, dan…”

“Ingatan kamu bagus juga. Bahkan untuk data penuh angka seperti itu..”

“Karena selain mengingat dengan otak, aku juga menyimpan dengan hati.”

Dia kembali tersenyum, kemudian mematikan rokok strawberrynya.

“Kita cari tempat ngobrol yang lain yuk..”

“Masih hujan,” jawabku. “ Aku tidak bawa payung.”

“Kau takut air? Masa kalah sama handphone ini?”

“Hahaha.. Bukan,” aku menggeleng. “Daya tahanku cukup lumayan. Aku lebih khawatir dengan kamu.”

“Hujan seperti ini juga bukan masalah buatku.”

“Tapi baju kamu..”, aku menunjuk tshirt putih yang dipakainya. “Kamu tidak takut…”

“Basah dan semuanya makin terlihat?” dia tersenyum nakal dan pandangannya makin menggoda. “Ayolah..”

“Kita ke mana?”

“Tak jauh dari sini ada hotel langgananku. Kita bisa sejenak istirahat, minum minuman hangat, membersihkan diri, dan mungkin sekalian mencoba handphone baruku di sana. Bath tubnya bagus kok..”

“Mencoba handphone ini bath tub? Kita?”

“Perlu kuulang dua kali?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s