Abberation

Temanku pernah bercerita bahwa jatuh cinta bukan hanya perkara hati, namun juga perkara waktu. Pemilihan waktu yang tepat. Dia juga bercerita bahwa dia sudah pernah menemukan orang yang menurut dia adalah takdirnya. Takdir untuk berkomitmen dan menghabiskan umur bersama. Sialnya, keadaan memaksanya untuk menyerah.

Temanku bercerita, bahwa dia menemukan gadis ini tepat sebelum dia pindah negara untuk melanjutkan studinya. Gadis ini pintar, lucu, dan menggemaskan. ‘Ada getaran yang terlalu hebat ketika menatapnya’, ucap temanku ini. Chemistry. ‘Begitu intens ketika kami berbicara, begitu banyak perasaan yang tak sempat terucapkan’, tambahnya lagi.

Namun apa mau dikata, kehidupan dan nasib mereka ibarat dua kereta. Berangkat dari stasiun yang sama, namun menuju tujuan yang berbeda.

Suara temanku bergetar, namun ada sedikit keyakinan dalam ucapannya. Cinta. Harapan. Kehilangan. Dia bercerita bagaimana dia sangat mencintai gadis itu. Terlampau cinta hingga sakit sekali untuk menjauh darinya. Terakhir, dia mengirimkan sebuah e-mail panjang untuk gadis itu. Yang tertulis di dalam e-mail itu sangatlah panjang, tulus dan jujur. Mungkin penuh penyesalan juga, pikirku.

‘Ketika aku membaca balasannya’ temanku kembali meneruskan ceritanya. “Mungkin apabila aku tidak kalah dengan egoku, kisah ini bisa berakhir dengan lebih bahagia”.

Dalam kekesalannya tersebut temanku menambahkan.

“What is that, though?” he said. “Fate just kicking me in the teeth? Dangling a carrot in front of me to make me run?”

(ya ya ya. Temanku satu ini memang mempunyai kebiasaan unik. Selalu nyerocos dengan bahasa lain ketika sedang kesal.)

Kujawab, “Mungkin saja. Bukankah fate strikes when you least expect it selalu dalam paragraf yang sama dengan shit happens?

It’s hard enough to meet good people. The prospects are already low enough, right? You would think the percentage of meeting someone when they’re already with someone else is even lower. And yet it still happens. All the time. What is that?

Kembali lagi kujawab, “Mungkin ini yang dinamakan anomali statistika”

“It’s fucked, is what it is.” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s