Disparate

Berantakan. Itulah yang terjadi ketika akhirnya aku memutuskan untuk membereskan tumpukan rak buku ku. Belum lagi buku-buku yang baru setengah dibaca berserakan dipojokan. Sisanya buku kesukaan yang tidak pernah bosan untuk dibaca. Tapi aku tidak bisa menunggu selamanya.

Kuputuskan untuk menjual beberapa.

***

Perempuan itu yang menerima buku ku di sebuah toko buku bekas. Memberikanku sebuah nomor telepon dan menyuruhku untuk menunggu kabar. Dia bilang akan mengecek buku ku sebelum akhirnya nanti akan memeberiku kabar.

Aku sudah berpikiran negatif, bahwa yang ia katakan akan memakan waktu lama. Mengecek satu persatu judul buku, menebak-nebak jalan ceritanya seperti apa hingga membaca sinopsis buku tersebut satu persatu.

Tapi akhirnya, ia meneleponku.

***

Perempuan ini memberiku tanda terima, meminta data diriku dan menyuruhku mengecek apakah alamatku sudah benar sebelum aku menandatangani kwitansi tersebut.

“Aku menemukan ini diantara halaman bukumu” ucap perempuan tersebut.

“Kamu suka menulis surat ya?” tambahnya lagi.

Aku mencerna ucapan perempuan itu. Kemudian kulihat diantara halaman yang ditunjuk, hmmm. Kartu pos. Satu bergambar The London Tower yang pernah kubeli dari The National Gallery Shop dan satunya bergambar kubah gereja St Paul’s waktu aku sedang jalan-jalan di Devons Road Market. Dibaliknya adalah kumpulan memori yang berbentuk tulisan.

Surat Cinta.

“Emmm, ya begitulah” jawabku kikuk

“Wanita di suratmu sepertinya dia lucu ya”

“Errr, tadinya”

“Tadinya?”

“Ya, kamu taulah gimana akhirnya”

“Kalau yang itu?”

Dia menunjuk sebuah kartu pos bergambar lukisan bunga dahlia karya C Klein.

Sembari mengangkat bahu, aku berkata

“Tadinya pengen nyelesaiin yang itu, tapi gak tau kenapa gak sempet-sempet”

“You have a beautiful way with words,” ucapnya

“Haha, makasih”

“Ohiya, ini total semuanya 20 pounds”

Nampaknya terlalu mahal untuk ukuran buku bekas, namun mengingat terlalu banyak memori didalamnya. Sepertinya uang berapapun tidak akan cukup untuk membelinya.

“Ini tanda terimanya” ucap wanita itu.

“Oh gak usah. Kayaknya aku gak butuh deh”

“Ambil aja, kamu pasti butuh kok”

“Oke.”

***

Di tanda terima tersebut ada nomor telepon, alamat surel dan sebuah nama.

Arabella

***

“Ternyata kamu juga suka nulis cerita ya. Harusnya kamu bilang aku lah.”

Aku tertegun sesaat. Berpikir kenapa dia bisa tahu.

“Tadinya”

“They are beautiful”

“Makasih”

“Ceritamu lebih kayak surat gitu ya”

“Well, ya emang formatnya dibuat model surat gitu”

“They are beautiful”

“Iya, barusan kamu udah bilang kok”

“Kamu bakalan nulis kayak gitu lagi gak?”

“Harusnya sih ya”

“Oh jadi enggak?”

“Aku pikir-pikir lagi deh” ucapku akhirnya.

Setelah percakapan tersebut, aku kembali memikirkan soal ceritaku lagi.

***

Kami jadian. Menghabiskan hampir seluruh musim dingin untuk berjalan-jalan di Ramsgate. Ini adalah pengalaman pertama dia menghabiskan musim dingin dengan seseorang yang spesial selain keluarganya.

Kami melakukan semua hal yang pasangan baru lakukan. Setidaknya, segala hal sederhana yang kita butuhkan untuk menjadi sepasang kekasih yang dimabuk cinta Kafe, kedai bir, toko kue, toko souvenir, perpustakaan, sampai hotel murah tempat bersembunyi dan bercinta sampai pagi.

Namun ada sesuatu dalam dirinya. Ketika dia memandangku dengan tatapan kosong. Dia seperti sedang mencari sesuatu, sesuatu yang dia yakin ada didalam diriku tapi tidak bisa dia temukan.

***

“Kamu nggak mau nulis surat buat aku?”

“Ngapain?kan kamu disini.”

“Tapi cara kamu nulis tuh beda sama kalau kamu lagi ngomong”

“Hah?”

“Aku kepengen ketemu kamu yang satu lagi. Sosok kamu yang lucu banget di tulisan”

“Oh”

“Tulisin aku surat ya?”

“Tapi kan gak ada alasan buat aku nulis surat. Kita ketemu hampir tiap hari kan?”

***

“Aku mau ke Wales bulan ini” ucapnya

“Hah?”

“Aku gak tau bakal berapa lama”

“Tapi kita bisa tetep komunikasi kan?”

“Enggak deh kayaknya”

“Kok gitu?”

“Handphone ku ilang”

Dia mengambil kertas, kemudian menuliskan sebuah alamat.

“Ini kan alamat hotel, emang bisa ya telepon kesana?”

“Ya enggak lah”

Dia membuatku terbengong-bengong. Aku hanya bisa mengangguk

“Okay, aku ngerti sekarang”

“Makasih”

***

Sudah lama sekali sejak aku terakhir memilih kartu pos untuk kukirim. Melihat-lihat modelnya, bahannya dan tentu saja gambarnya. Melakukan kembali kegiatan ini membangkitkan kembali ingatanku. Ingatan tentang bagaimana aku rela berjam-jam mencari desain kartu pos yang sesuai di pasar. Menuangkan segala perasaan kedalam sebuah surat. Berharap perempuan tersebut juga menulis hal yang sama tentangku.

Akhirnya aku menemukan kartu pos yang sesuai. Setelah selesai kubayar, aku tertegun.

Kenapa aku selalu mengenang ingatan sebagai orang ketiga.

***

“Makasih ya suratnya”

“Ah , udah nyampe ya. Suka gak?”

“Lumayan”

“Lumayan?”

“Kamu beda ya sekarang”

Aku kebingungan

“Suratmu gak kayak surat-suratmu dulu”

“Ya gimana, mungkin emang gaya tulisanku yang berubah”

“Bukan, tulisanmu ke aku gak sama kayak tulisanmu ke dia”

“Ya kamu kan bukan dia”

“Kamu kayak bukan orang yang sama deh. Kemana kamu yang dulu”

Tunggu, tunggu. Bagaimana cara menjelaskan sama pacar yang lagi ngambek bahwa orang yang berdiri sekarang dengan orang yang ada tiga tahun lalu adalah orang yang berbeda?

“Kamu lebih sayang dia ya?”

***

Pernyataan tersebut cukup menghantuiku.

Sebelumnya aku tidak pernah berpikir bahwa rasa sayang adalah sesuatu yang tangible. Bisa diukur. Bisa dihitung. Bisa ditimbang.

Tidak pernah terpikirkan juga bahwa rasa sayang harus selalu dibandingkan dengan yang terdahulu atau yang akan datang.

Aku lebih berpikir bahwa rasa sayang dan cinta adalah sesuatu yang abstrak. Sama seperti saat kita mencampur warna untuk melukis.  Mengambil satu warna kemudian mencampurkannya dengan warna lain. Hasilnya adalah sesuatu yang tidak bisa kita prediksikan. Warnanya sendiri tentu akan berubah terus menerus kan?Tergantung warna awal atau warna yang dicampur. Ada banyak variabel yang menetukan warna apakah yang akan dihasilkan dari pencampuran tersebut.

Cinta pun, sama seperti itu kurasa. Dua orang yang saling mencintai seperti dua buah warna yang saling bercampur. Entah nanti hasilnya akan jelek, pudar atau bagus. Siapa pula yang bisa menilainya?

Cinta dan seni memang serapuh itu.

Aku tahu, aku akan mengacaukannya lagi kalau beragitasi langsung dengannya.

Maka aku menulis  surat dibalik sebuah kartu pos bergambar lukisan dari Alphonse Mucha.

Kemudian, aku mengirimkannya lagi.

***

“Aku habis baca lagi”

“Lagi?”

“Kumpulan tulisanmu, yang pertama”

“Oh”

“Dalam tulisan tersebut seperti ada kerinduan, pengharapan dan tentu saja kegundahan”

Aku mengangguk.

“Kayaknya aku mau deh, kamu masih punya versi cetaknya gak?”

Aku menggeleng.

Dengan segala pengalaman yang kita alami dalam hidup ini, kita berubah. Seiring berjalannya waktu kita berubah menjadi orang yang berbeda. Mungkin menjadikan kita sosok yang keras atau cenderung membuat kita mellow.

Atau mungkin , setiap kali kita terluka kita belajar untuk menghindari bahaya tersebut.

Fisik maupun mental.

“Yaudah gpp, aku juga gak bisa terus terusan minta kamu jadi kamu tiga tahun yang lalu. Dimana tulisanmu bisa bikin aku jatuh cinta. Gak seharusnya aku ngarep kayak gitu”

Dia melihat sekilas tulisanku di kartu pos Alphonse.

“It’s beautiful” ucapnya

Aku memeluknya. Kemudian mencium keningnya.

“Kita bikin lukisan kita sendiri ya” ucapku.

Dangdut abis.

Tapi kemudian dia menatapku lekat. Tatapannya berbeda dari yang sudah sudah. Dia menemukan apa yang dia cari selama ini.

***

Berhari-hari kemudian aku kembali ketempatku. Duduk pada meja kerjaku dan mulai menulis. Aku terus menulis hingga aku sadari banyak kalimat yang tidak padu dan berantakan. Tapi terasa jujur dan menyenangkan.

Sudah lama sekali aku tidak menulis seperti itu. Menulis yang mengalir. Rasanya seperti bertemu teman lama yang kamu kira tidak akan kamu temui lagi. Terperosok dalam percakapan dahulu kala.

Terperosok dalam nostalgia.

Mungkin saja, kita tidak jauh berbeda dengan diri kita yang terdahulu.

Mungkin kita hanyalah sosok yang tidak ingin merasa sakit yang sama.

Kukirimkan surat itu ke Wales.

Tapi aku tidak pernah bertemu Arabella lagi.

***

Beberapa hari kemudian suratnya kembali kepadaku dalam keadaan belum terbuka.

Tempat tinggal Arabella kosong. Dia sudah pindah. Handphone nya selalu mati dan email ku tidak pernah dibalasnya. Mungkin sedang ingin menyendiri.

Aku tidak pernah tahu teman-teman maupun orangtuanya. Tidak pernah kupikirkan sampai sejauh itu. Waktu yang kita lewati bersama sepenuhnya milik kita.

Semestinya dia semestanya aku.

Tapi dia sudah menghilang sekarang.

***

Aku kembali menulis surat.

Dimanapun aku berada, aku menulis surat selagi sempat. Dalam tulisanku ini terdapat spontanitas, kegembiraan dan rasa sayang.

Surat-suratku ini sedang tersesat dan berharap suatu hari nanti mereka akan menemukan alamat untuk dikirim. Orang untuk membaca.

Baik atau buruk, tak jadi masalah.

Toh aku suka warnaku apa adanya.

***

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s