Pandora Box

“Chairlift”

Monita  tidak percaya melihat satu kata yang barusan muncul di telepon genggamnya.

Sudah hampir tiga tahun semenjak terakhir dia bertukar kabar dengan Pandji. Bertukar kabar dalam artian menuangkan kata-kata dalam bentuk surat yang kemudian dikirim ke alamat surel Pandji  Sehangat apapun kata-katanya, surat tetaplah surat yang akan tetap membisu walaupun diteriakan berulang kali.

Surat yang Monita tentu saja buah ide dari Pandji yang jelas-jelas bilang bahwa untuk apa bertemu kalau obrolan mereka tidak berkembang dan membahas hal-hal yang sudah usai. Karena itu, Pandji menyuruh Monita untuk menulis surat untuknya.

Maka, Monita menulis surat untuk Pandji.

Sebuah surat  yang berisi hampir 10.000 kata menurut hitungan Microsoft Office. Surat tersebut tidak lain adalah kegundahan dia selama hampir ini.  Mengambil kembali hal-hal kecil diantara mereka berdua dan menuangkannya kedalam surat. Kali ini benar-benar tidak ada yang bisa ditutup, terbalik dari tujuan dia yang ingin menutup lembarannya dengan Pandji.

Dan kemudian hening.

Dia mencurahkan semua kepedihannya dalam detail yang sangat jelas. Dia tahu, keheningan adalah satu-satunya jawaban yang tidak akan menyakitinya setelah selama ini.

Pikirannya mengawang dalam isi suratnya. Tidak ada akhir yang bahagia untuknya. Namun dia teringat pada salah satu kalimat di suratnya. Iya, sebuah kalimat yang kalau dia pikir-pikir lagi nampaknya sudah kelewat batas sekaligus menjadi penutup suratnya yang berbunyi begini :

“Kalau suatu hari kamu butuh teman. Aku akan selalu bisa kok. Cukup kirimin nama ‘band’ yang pernah kita dengerin bareng aja. Maka aku akan siap untuk ketemu kamu.”

Dan begitulah adanya.

“Chairlift”

Dia sadar bahwa sekarang kedua tangannya telah menutup mulutnya. Perlahan dia melepaskan tangan dari mulutnya yang menganga. Memberanikan diri mengambil telepon genggamnya. Adrenalin membanjiri tubuhnya.

Susah payah, ia mengetik

“Force amassed, dimana?”

Dia kembali melihat layar handphone nya, menggigit bibirnya, dan dengan perasaan yang tak karuan jemarinya bergerak ke tombol send.

Sayup-sayup Spotify nya memainkan lagu dari Regina Spektor – Eet.

Selalu ada perasaan aneh setiap lagu dari Regina Spektor mengalun. Kecemasannya kini berubah menjadi seulas senyum.

Janji adalah janji.

Monita memencet tombol send.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s