Pandora Box

“Chairlift”

Monita  tidak percaya melihat satu kata yang barusan muncul di telepon genggamnya.

Sudah hampir tiga tahun semenjak terakhir dia bertukar kabar dengan Pandji. Bertukar kabar dalam artian menuangkan kata-kata dalam bentuk surat yang kemudian dikirim ke alamat surel Pandji  Sehangat apapun kata-katanya, surat tetaplah surat yang akan tetap membisu walaupun diteriakan berulang kali.

Surat yang Monita tentu saja buah ide dari Pandji yang jelas-jelas bilang bahwa untuk apa bertemu kalau obrolan mereka tidak berkembang dan membahas hal-hal yang sudah usai. Karena itu, Pandji menyuruh Monita untuk menulis surat untuknya.

Maka, Monita menulis surat untuk Pandji.

Sebuah surat  yang berisi hampir 10.000 kata menurut hitungan Microsoft Office. Surat tersebut tidak lain adalah kegundahan dia selama hampir ini.  Mengambil kembali hal-hal kecil diantara mereka berdua dan menuangkannya kedalam surat. Kali ini benar-benar tidak ada yang bisa ditutup, terbalik dari tujuan dia yang ingin menutup lembarannya dengan Pandji.

Dan kemudian hening.

Dia mencurahkan semua kepedihannya dalam detail yang sangat jelas. Dia tahu, keheningan adalah satu-satunya jawaban yang tidak akan menyakitinya setelah selama ini.

Pikirannya mengawang dalam isi suratnya. Tidak ada akhir yang bahagia untuknya. Namun dia teringat pada salah satu kalimat di suratnya. Iya, sebuah kalimat yang kalau dia pikir-pikir lagi nampaknya sudah kelewat batas sekaligus menjadi penutup suratnya yang berbunyi begini :

“Kalau suatu hari kamu butuh teman. Aku akan selalu bisa kok. Cukup kirimin nama ‘band’ yang pernah kita dengerin bareng aja. Maka aku akan siap untuk ketemu kamu.”

Dan begitulah adanya.

“Chairlift”

Dia sadar bahwa sekarang kedua tangannya telah menutup mulutnya. Perlahan dia melepaskan tangan dari mulutnya yang menganga. Memberanikan diri mengambil telepon genggamnya. Adrenalin membanjiri tubuhnya.

Susah payah, ia mengetik

“Force amassed, dimana?”

Dia kembali melihat layar handphone nya, menggigit bibirnya, dan dengan perasaan yang tak karuan jemarinya bergerak ke tombol send.

Sayup-sayup Spotify nya memainkan lagu dari Regina Spektor – Eet.

Selalu ada perasaan aneh setiap lagu dari Regina Spektor mengalun. Kecemasannya kini berubah menjadi seulas senyum.

Janji adalah janji.

Monita memencet tombol send.

 

Confabulate

Dia memukul wajahku menggunakan pengusir lalat.

Sembari menangis tersedu-sedu, dia menelepon kakak lelakinya yang tinggal di dekat situ.

“Mau kamu apa sih? Diajak ketemuan selalu gak bisa, di sms pun selalu menghindar” ucapnya keras kepadaku.

Dia memukulku lagi. Kali ini di dada.

“Kan aku juga gak pergi lama-lama, kok kamunya malah gitu sih” dia menangis, suaranya tercekat.

Malam itu dia meninggalkanku sendirian di sebuah restoran, sesaat setelah kami terlibat pertengkaran yang bahkan aku sudah lupa asal muasalnya.

“Aku tuh kangen, gak ketemu kamu ternyata bisa semenyakitkan ini. Aku nekat kesini biar bisa  ketemu kamu. Tapi apa? Jauh-jauh kesini cuma liat kamu kayak gini?”

Dia memukulku lagi.

Di luar mulai gerimis.  Lampu jalanan  berpendar-pendar kekuningan. Hangat dan beruap.

Dia lucu sekali dengan kaos bergambar Daft Punk yangs selalu dia lipat di bagian lengannya. Dia bilang, lengan kaos ini terlalu panjang dan kurang nyaman namun memberinya kehangatan. Padahal menurutku, dia memang suka kaos itu.

Handphone nya kembali berdering. Ternyata dia kembali mengganti ringtonenya dengan musik favoritku ; All My Life dari The Beatles. Dia kembali berbicara sambil tersedu-sedan dan kemudian berbicara lagi sebelum menutup teleponnya (entah siapa yang dia telepon).

Dia kembali berbalik kearahku.

“Pergi! Pergi! Pergiii!!!! Pergi gak hah?!!!” teriaknya sambil menangis. Memukulku lagi, lagi dan lagi.

Gerimis telah berhenti.

Polisi datang. Membawaku dalam kantong jenazah.

Dia masih berteriak kearahku sambil berusaha mengusir lalat yang beterbangan.

All these places have their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life…..
I’ve loved them all

Disparate

Berantakan. Itulah yang terjadi ketika akhirnya aku memutuskan untuk membereskan tumpukan rak buku ku. Belum lagi buku-buku yang baru setengah dibaca berserakan dipojokan. Sisanya buku kesukaan yang tidak pernah bosan untuk dibaca. Tapi aku tidak bisa menunggu selamanya.

Kuputuskan untuk menjual beberapa.

***

Perempuan itu yang menerima buku ku di sebuah toko buku bekas. Memberikanku sebuah nomor telepon dan menyuruhku untuk menunggu kabar. Dia bilang akan mengecek buku ku sebelum akhirnya nanti akan memeberiku kabar.

Aku sudah berpikiran negatif, bahwa yang ia katakan akan memakan waktu lama. Mengecek satu persatu judul buku, menebak-nebak jalan ceritanya seperti apa hingga membaca sinopsis buku tersebut satu persatu.

Tapi akhirnya, ia meneleponku.

***

Perempuan ini memberiku tanda terima, meminta data diriku dan menyuruhku mengecek apakah alamatku sudah benar sebelum aku menandatangani kwitansi tersebut.

“Aku menemukan ini diantara halaman bukumu” ucap perempuan tersebut.

“Kamu suka menulis surat ya?” tambahnya lagi.

Aku mencerna ucapan perempuan itu. Kemudian kulihat diantara halaman yang ditunjuk, hmmm. Kartu pos. Satu bergambar The London Tower yang pernah kubeli dari The National Gallery Shop dan satunya bergambar kubah gereja St Paul’s waktu aku sedang jalan-jalan di Devons Road Market. Dibaliknya adalah kumpulan memori yang berbentuk tulisan.

Surat Cinta.

“Emmm, ya begitulah” jawabku kikuk

“Wanita di suratmu sepertinya dia lucu ya”

“Errr, tadinya”

“Tadinya?”

“Ya, kamu taulah gimana akhirnya”

“Kalau yang itu?”

Dia menunjuk sebuah kartu pos bergambar lukisan bunga dahlia karya C Klein.

Sembari mengangkat bahu, aku berkata

“Tadinya pengen nyelesaiin yang itu, tapi gak tau kenapa gak sempet-sempet”

“You have a beautiful way with words,” ucapnya

“Haha, makasih”

“Ohiya, ini total semuanya 20 pounds”

Nampaknya terlalu mahal untuk ukuran buku bekas, namun mengingat terlalu banyak memori didalamnya. Sepertinya uang berapapun tidak akan cukup untuk membelinya.

“Ini tanda terimanya” ucap wanita itu.

“Oh gak usah. Kayaknya aku gak butuh deh”

“Ambil aja, kamu pasti butuh kok”

“Oke.”

***

Di tanda terima tersebut ada nomor telepon, alamat surel dan sebuah nama.

Arabella

***

“Ternyata kamu juga suka nulis cerita ya. Harusnya kamu bilang aku lah.”

Aku tertegun sesaat. Berpikir kenapa dia bisa tahu.

“Tadinya”

“They are beautiful”

“Makasih”

“Ceritamu lebih kayak surat gitu ya”

“Well, ya emang formatnya dibuat model surat gitu”

“They are beautiful”

“Iya, barusan kamu udah bilang kok”

“Kamu bakalan nulis kayak gitu lagi gak?”

“Harusnya sih ya”

“Oh jadi enggak?”

“Aku pikir-pikir lagi deh” ucapku akhirnya.

Setelah percakapan tersebut, aku kembali memikirkan soal ceritaku lagi.

***

Kami jadian. Menghabiskan hampir seluruh musim dingin untuk berjalan-jalan di Ramsgate. Ini adalah pengalaman pertama dia menghabiskan musim dingin dengan seseorang yang spesial selain keluarganya.

Kami melakukan semua hal yang pasangan baru lakukan. Setidaknya, segala hal sederhana yang kita butuhkan untuk menjadi sepasang kekasih yang dimabuk cinta Kafe, kedai bir, toko kue, toko souvenir, perpustakaan, sampai hotel murah tempat bersembunyi dan bercinta sampai pagi.

Namun ada sesuatu dalam dirinya. Ketika dia memandangku dengan tatapan kosong. Dia seperti sedang mencari sesuatu, sesuatu yang dia yakin ada didalam diriku tapi tidak bisa dia temukan.

***

“Kamu nggak mau nulis surat buat aku?”

“Ngapain?kan kamu disini.”

“Tapi cara kamu nulis tuh beda sama kalau kamu lagi ngomong”

“Hah?”

“Aku kepengen ketemu kamu yang satu lagi. Sosok kamu yang lucu banget di tulisan”

“Oh”

“Tulisin aku surat ya?”

“Tapi kan gak ada alasan buat aku nulis surat. Kita ketemu hampir tiap hari kan?”

***

“Aku mau ke Wales bulan ini” ucapnya

“Hah?”

“Aku gak tau bakal berapa lama”

“Tapi kita bisa tetep komunikasi kan?”

“Enggak deh kayaknya”

“Kok gitu?”

“Handphone ku ilang”

Dia mengambil kertas, kemudian menuliskan sebuah alamat.

“Ini kan alamat hotel, emang bisa ya telepon kesana?”

“Ya enggak lah”

Dia membuatku terbengong-bengong. Aku hanya bisa mengangguk

“Okay, aku ngerti sekarang”

“Makasih”

***

Sudah lama sekali sejak aku terakhir memilih kartu pos untuk kukirim. Melihat-lihat modelnya, bahannya dan tentu saja gambarnya. Melakukan kembali kegiatan ini membangkitkan kembali ingatanku. Ingatan tentang bagaimana aku rela berjam-jam mencari desain kartu pos yang sesuai di pasar. Menuangkan segala perasaan kedalam sebuah surat. Berharap perempuan tersebut juga menulis hal yang sama tentangku.

Akhirnya aku menemukan kartu pos yang sesuai. Setelah selesai kubayar, aku tertegun.

Kenapa aku selalu mengenang ingatan sebagai orang ketiga.

***

“Makasih ya suratnya”

“Ah , udah nyampe ya. Suka gak?”

“Lumayan”

“Lumayan?”

“Kamu beda ya sekarang”

Aku kebingungan

“Suratmu gak kayak surat-suratmu dulu”

“Ya gimana, mungkin emang gaya tulisanku yang berubah”

“Bukan, tulisanmu ke aku gak sama kayak tulisanmu ke dia”

“Ya kamu kan bukan dia”

“Kamu kayak bukan orang yang sama deh. Kemana kamu yang dulu”

Tunggu, tunggu. Bagaimana cara menjelaskan sama pacar yang lagi ngambek bahwa orang yang berdiri sekarang dengan orang yang ada tiga tahun lalu adalah orang yang berbeda?

“Kamu lebih sayang dia ya?”

***

Pernyataan tersebut cukup menghantuiku.

Sebelumnya aku tidak pernah berpikir bahwa rasa sayang adalah sesuatu yang tangible. Bisa diukur. Bisa dihitung. Bisa ditimbang.

Tidak pernah terpikirkan juga bahwa rasa sayang harus selalu dibandingkan dengan yang terdahulu atau yang akan datang.

Aku lebih berpikir bahwa rasa sayang dan cinta adalah sesuatu yang abstrak. Sama seperti saat kita mencampur warna untuk melukis.  Mengambil satu warna kemudian mencampurkannya dengan warna lain. Hasilnya adalah sesuatu yang tidak bisa kita prediksikan. Warnanya sendiri tentu akan berubah terus menerus kan?Tergantung warna awal atau warna yang dicampur. Ada banyak variabel yang menetukan warna apakah yang akan dihasilkan dari pencampuran tersebut.

Cinta pun, sama seperti itu kurasa. Dua orang yang saling mencintai seperti dua buah warna yang saling bercampur. Entah nanti hasilnya akan jelek, pudar atau bagus. Siapa pula yang bisa menilainya?

Cinta dan seni memang serapuh itu.

Aku tahu, aku akan mengacaukannya lagi kalau beragitasi langsung dengannya.

Maka aku menulis  surat dibalik sebuah kartu pos bergambar lukisan dari Alphonse Mucha.

Kemudian, aku mengirimkannya lagi.

***

“Aku habis baca lagi”

“Lagi?”

“Kumpulan tulisanmu, yang pertama”

“Oh”

“Dalam tulisan tersebut seperti ada kerinduan, pengharapan dan tentu saja kegundahan”

Aku mengangguk.

“Kayaknya aku mau deh, kamu masih punya versi cetaknya gak?”

Aku menggeleng.

Dengan segala pengalaman yang kita alami dalam hidup ini, kita berubah. Seiring berjalannya waktu kita berubah menjadi orang yang berbeda. Mungkin menjadikan kita sosok yang keras atau cenderung membuat kita mellow.

Atau mungkin , setiap kali kita terluka kita belajar untuk menghindari bahaya tersebut.

Fisik maupun mental.

“Yaudah gpp, aku juga gak bisa terus terusan minta kamu jadi kamu tiga tahun yang lalu. Dimana tulisanmu bisa bikin aku jatuh cinta. Gak seharusnya aku ngarep kayak gitu”

Dia melihat sekilas tulisanku di kartu pos Alphonse.

“It’s beautiful” ucapnya

Aku memeluknya. Kemudian mencium keningnya.

“Kita bikin lukisan kita sendiri ya” ucapku.

Dangdut abis.

Tapi kemudian dia menatapku lekat. Tatapannya berbeda dari yang sudah sudah. Dia menemukan apa yang dia cari selama ini.

***

Berhari-hari kemudian aku kembali ketempatku. Duduk pada meja kerjaku dan mulai menulis. Aku terus menulis hingga aku sadari banyak kalimat yang tidak padu dan berantakan. Tapi terasa jujur dan menyenangkan.

Sudah lama sekali aku tidak menulis seperti itu. Menulis yang mengalir. Rasanya seperti bertemu teman lama yang kamu kira tidak akan kamu temui lagi. Terperosok dalam percakapan dahulu kala.

Terperosok dalam nostalgia.

Mungkin saja, kita tidak jauh berbeda dengan diri kita yang terdahulu.

Mungkin kita hanyalah sosok yang tidak ingin merasa sakit yang sama.

Kukirimkan surat itu ke Wales.

Tapi aku tidak pernah bertemu Arabella lagi.

***

Beberapa hari kemudian suratnya kembali kepadaku dalam keadaan belum terbuka.

Tempat tinggal Arabella kosong. Dia sudah pindah. Handphone nya selalu mati dan email ku tidak pernah dibalasnya. Mungkin sedang ingin menyendiri.

Aku tidak pernah tahu teman-teman maupun orangtuanya. Tidak pernah kupikirkan sampai sejauh itu. Waktu yang kita lewati bersama sepenuhnya milik kita.

Semestinya dia semestanya aku.

Tapi dia sudah menghilang sekarang.

***

Aku kembali menulis surat.

Dimanapun aku berada, aku menulis surat selagi sempat. Dalam tulisanku ini terdapat spontanitas, kegembiraan dan rasa sayang.

Surat-suratku ini sedang tersesat dan berharap suatu hari nanti mereka akan menemukan alamat untuk dikirim. Orang untuk membaca.

Baik atau buruk, tak jadi masalah.

Toh aku suka warnaku apa adanya.

***

 

 

Abberation

Temanku pernah bercerita bahwa jatuh cinta bukan hanya perkara hati, namun juga perkara waktu. Pemilihan waktu yang tepat. Dia juga bercerita bahwa dia sudah pernah menemukan orang yang menurut dia adalah takdirnya. Takdir untuk berkomitmen dan menghabiskan umur bersama. Sialnya, keadaan memaksanya untuk menyerah.

Temanku bercerita, bahwa dia menemukan gadis ini tepat sebelum dia pindah negara untuk melanjutkan studinya. Gadis ini pintar, lucu, dan menggemaskan. ‘Ada getaran yang terlalu hebat ketika menatapnya’, ucap temanku ini. Chemistry. ‘Begitu intens ketika kami berbicara, begitu banyak perasaan yang tak sempat terucapkan’, tambahnya lagi.

Namun apa mau dikata, kehidupan dan nasib mereka ibarat dua kereta. Berangkat dari stasiun yang sama, namun menuju tujuan yang berbeda.

Suara temanku bergetar, namun ada sedikit keyakinan dalam ucapannya. Cinta. Harapan. Kehilangan. Dia bercerita bagaimana dia sangat mencintai gadis itu. Terlampau cinta hingga sakit sekali untuk menjauh darinya. Terakhir, dia mengirimkan sebuah e-mail panjang untuk gadis itu. Yang tertulis di dalam e-mail itu sangatlah panjang, tulus dan jujur. Mungkin penuh penyesalan juga, pikirku.

‘Ketika aku membaca balasannya’ temanku kembali meneruskan ceritanya. “Mungkin apabila aku tidak kalah dengan egoku, kisah ini bisa berakhir dengan lebih bahagia”.

Dalam kekesalannya tersebut temanku menambahkan.

“What is that, though?” he said. “Fate just kicking me in the teeth? Dangling a carrot in front of me to make me run?”

(ya ya ya. Temanku satu ini memang mempunyai kebiasaan unik. Selalu nyerocos dengan bahasa lain ketika sedang kesal.)

Kujawab, “Mungkin saja. Bukankah fate strikes when you least expect it selalu dalam paragraf yang sama dengan shit happens?

It’s hard enough to meet good people. The prospects are already low enough, right? You would think the percentage of meeting someone when they’re already with someone else is even lower. And yet it still happens. All the time. What is that?

Kembali lagi kujawab, “Mungkin ini yang dinamakan anomali statistika”

“It’s fucked, is what it is.” 

Allure

“Kalungnya bagus,” ucapku sambil tersenyum. Ekor mataku bergerak ke mata kalung berwujud dewa Ganesha yang menempel tepat di atas dadanya. Perempuan cantik yang berteduh di sebelahku itu mengisap rokoknya dalam-dalam, mengembuskan asapnya dengan nikmat. Samar aroma strawberry kemudian memenuhi udara.

“Kau tahu,” ujarnya tanpa melihat ke arahku. “Baik buruknya perempuan sebenarnya bisa dilihat dari matanya. Tapi sayang kebanyakan laki-laki lebih memperhatikan dada..”

“Oh ya?” tanyaku. Buru-buru aku mengalihkan pandangan. “Untung aku cuma memperhatikan kalung.”

“Kau tahu kalung ini?

“Ganesha,” jawabku yakin. “Putra Dewa Siwa dan Bethari Durga. Berwujud manusia dengan kepala gajah. Dipercaya sebagai dewa ilmu pengetahuan dan keberuntungan. Gading sebelah kanannya patah. Di tangannya ada sebilah kapak, tangan satunya memegang…”

“Ya.. ya.. Cukup,” potong perempuan itu. “Ada banyak versi dan cerita tentang Ganesha. Bahkan Ganesha yang menjadi logo ITB juga artinya beda.”

“ITB ya..” aku tercenung. “Sudah lama sekali aku tidak main ke Bandung.”

“Pernah patah hati di sana?”

“Tepatnya jatuh cinta dan patah hati,” jawabku. “Di Bandung jatuh cinta dan patah hati selalu terasa lebih dramatis berkali-kali lipat.”

“Hahaha..”

“Perempuan Bandung cuma ada dua macam. Cantik, dan cantik banget.”

“Itu kalimat gombal standar untuk menggoda perempuan Bandung kan?”

“Kamu dari Bandung?”

“Bukan,” dia menggeleng. “Mantan pacarku yang orang Bandung.”

“Oooh.. Sudah mantan.”

“Begitulah,” dia tersenyum tipis dan tanpa beban. “Kami berpacaran hampir dua tahun. Yang terlama dibanding pacar-pacarku sebelumnya. Pacaran jarak jauh, komunikasi tiap hari cuma lewat telepon dan video call, kangen-kangenan dan berantem juga jarak jauh. Kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan. Bertemu sebulan sekali hanya untuk.. ya kau tahu sendiri lah..”

“Tapi menurutku Jakarta-Bandung bukan LDR.”

“Kok bisa?”

“Disebut LDR jika dan hanya jika jarak dua kota memakan waktu 7 jam perjalanan darat, atau lebih dari 500ribu untuk tiket pesawat.”

Dia kembali tersenyum. “Jarak ternyata memang bisa jadi musuh berbahaya ya..”

“Sama sekali tidak,” aku menggeleng tegas. “Musuh terbesar sebuah hubungan adalah curiga dan rasa tidak percaya.”

“Teorinya memang seperti itu. Mengatakannya mudah. Tapi menjalaninya sama sekali tidak mudah.”

“Aku nggak bilang itu mudah sih..”

“Sulit,” bibirnya yang basah kembali mengembuskan asap beraroma strawberry. “Menjalaninya jauh lebih sulit. Faktanya, kedekatan psikologis ternyata memang membutuhkan kedekatan fisik.”

Sebuah nada dering kemudian terdengar. Ada panggilan masuk di handphonenya. Dari sudut mataku kulihat dia hanya diam memandangi nama yang tertera di layar, sebelum kemudian jarinya menekan tombol reject.

“Mantan pacar kamu?”

Perempuan itu mengangguk. “Dia selalu begitu. Kembali di saat yang tidak tepat. Hanya untuk meminta maaf dan mengatakan hal-hal tidak penting.”

“Apa susahnya memberi maaf?”

“Ini lebih dari masalah itu. Kamu nggak akan mengerti.”

Aku terdiam dan langsung menyadari bahwa kalimatku barusan memang kurang pantas. Buru-buru aku mengalihkan pembicraan. “By the way, handphonenya bagus.”

“Kau tahu handphone ini?”

“Sony Xperia Z3,” jawabku. “Baru kulihat kemarin malam di situs resminya. Tahan air dan debu dengan sertifikasi Display berteknologi Bravia Engine 2, kamera 20 megapixel, dan…”

“Ingatan kamu bagus juga. Bahkan untuk data penuh angka seperti itu..”

“Karena selain mengingat dengan otak, aku juga menyimpan dengan hati.”

Dia kembali tersenyum, kemudian mematikan rokok strawberrynya.

“Kita cari tempat ngobrol yang lain yuk..”

“Masih hujan,” jawabku. “ Aku tidak bawa payung.”

“Kau takut air? Masa kalah sama handphone ini?”

“Hahaha.. Bukan,” aku menggeleng. “Daya tahanku cukup lumayan. Aku lebih khawatir dengan kamu.”

“Hujan seperti ini juga bukan masalah buatku.”

“Tapi baju kamu..”, aku menunjuk tshirt putih yang dipakainya. “Kamu tidak takut…”

“Basah dan semuanya makin terlihat?” dia tersenyum nakal dan pandangannya makin menggoda. “Ayolah..”

“Kita ke mana?”

“Tak jauh dari sini ada hotel langgananku. Kita bisa sejenak istirahat, minum minuman hangat, membersihkan diri, dan mungkin sekalian mencoba handphone baruku di sana. Bath tubnya bagus kok..”

“Mencoba handphone ini bath tub? Kita?”

“Perlu kuulang dua kali?”

Cessation

“Kamu suka The Script?”

Suara seorang pria tiba-tiba saja mengejutkanku. Suaranya terdengar keras sekali walaupun aku sedang menggunakan headset.

Aku mengedarkan pandanganku, tidak ada orang lain di sekitar kami, hanya ada aku dan pria itu. Berarti sudah jelas dia sedang berbicara denganku.

Aku pun menoleh ke arahnya ragu-ragu, dan mengangguk kecil. Aku tidak berniat untuk melakukan pembicaraan panjang lebar dengannya, karena sejak kecil aku diajari untuk tidak berbicara dengan orang asing, apalagi di tempat-tempat rawan pencopet seperti di halte bus ini.

“Saya juga suka.” Lanjut pria itu.

Aku terdiam, menundukkan tatapanku ke arah layar ponsel yang menunjukkan sedang diputarnya sebuah lagu dari The Script – The Man Who Can’t Be Moved.

“Lagu itu bercerita tentang seorang pria yang setia menunggu kekasihnya di tempat yang sama seperti waktu pertama kalinya mereka jumpa.” Pria itu menunjuk layar ponselku dan tersenyum getir, “Tapi hal-hal semacam itu menurut saya hanya ada di lagu saja. Tidak ada yang sesetia itu untuk terus mencintai satu orang yang sama, apalagi yang sudah menyakitinya.”

Aku tertegun sejenak, tanpa sadar aku sudah lebih memperhatikan apa yang sedang diucapkan oleh pria itu daripada lagu yang sedang dilantunkan oleh Danny O’Donoghue ini. Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja aku merasa ingin berbincang-bincang dengannya. Akhirnya aku melepas headset­ku dan mengikuti arah pembicaraannya.

“Lebih tepatnya mantan kekasih.” Aku tersenyum ke arahnya, dan mengoreksi analisanya mengenai lagu yang baru saja kudengar.

“Ah ya, maksudku mantan kekasih.”

“Menurutku hal itu tidak benar, mengenai hal semacam itu hanya ada di lagu.”

“Kenapa begitu?” Tanyanya, “Menurut saya hal itu bodoh, menunggu seseorang yang jelas-jelas sudah melupakannya. Sia-sia, percuma.” Pria itu tertawa kecil, menekankan dua kata terakhir seolah kata-kata itu ditujukan untuk dirinya sendiri.

“Beberapa orang memang tidak bisa begitu saja membenci orang yang mereka cintai, walaupun sudah disakiti dan dikecewakan.”

“Tetap saja bodoh. Bukannya melanjutkan hidup dan membuat mereka yang meninggalkan itu menyesal.”

“Kau tidak pernah jatuh cinta.”

“Jangan salah menilaiku.” Pria itu tersenyum, “Mereka yang terlihat skeptis terhadap cinta itu justru mereka yang pernah mati-matian jatuh cinta, dan terluka.”

“Jadi, kamu ini sebenarnya sedang patah hati?”

Sebelum ia sempat menjawab pertanyaanku, sebuah bus nampak dari kejauhan. Aku pun segera berdiri meskipun sebenarnya aku masih merasa penasaran, “Saya duluan ya. Kamu tidak naik?”

Pria itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “Tidak. Saya sedang menunggu kekasih saya.”

Aku menatapnya heran, dan segera naik ke dalam bus sambil melambaikan tangan ke arahnya, “Duluan ya!” Pria itu balas melambaikan tangannya, menyisakan sebuah pertanyaan yang tak sempat terjawab.

Aku pun segera duduk di bangku paling depan yang hanya ditempati oleh seorang perempuan seusiaku. Dan ketika aku baru saja duduk di sebelahnya, aku mendapati perempuan itu sedang menatapku keheranan.

“Tadi berpamitan pada siapa, Mas?” Tanyanya.

“Err.. teman saya.”Jawabku, agak ragu. Karena sebenarnya orang yang baru saja ku ajak berdiskusi tanpa saling menyebutkan nama itu belum bisa kusebut teman.

“Laki-laki?”

Aku mengangguk perlahan, “Memangnya kenapa?”

“Maaf, saya tidak bermaksud menakut-nakuti Mas, tapi..” Perempuan itu menghela nafas panjang, “Beberapa hari yang lalu, di sekitar halte bus itu ada seorang laki-laki yang meninggal dunia karena tertabrak bus.”

Dheg.

Tiba-tiba saja jantungku seolah berhenti berdetak, “Ah, Mbak bercanda..”

Perempuan itu menggelengkan kepalanya, “Menurut kerabat korban, laki-laki itu memang sudah lama sekali tidak pulang ke rumahnya. Dan banyak saksi yang mengatakan bahwa mereka sering sekali melihat laki-laki itu duduk di halte tanpa pernah menaiki satu pun bus. Laki-laki itu hanya duduk disana, seperti menunggu seseorang.”

Aku terdiam sejenak, “Be.. begitu?”

“Ya, begitu yang saya dengar, Mas..”

“Oh..” Aku menatap jalanan di hadapanku dengan tatapan kosong, siapa yang baru saja kuajak bicara barusan? Seorang pria yang terlihat skeptis terhadap cinta, namun ternyata dia jugalah yang mati-matian mencintai seseorang sampai kematian memeluknya.

Sia-sia, percuma.

Tiba-tiba saja dua kata yang tadi diucapkan oleh pria itu berputar berulang-ulang di telingaku.

“..People talk about a guy who’s waiting for a girl,

there are no hole in his shoes, but a big hole in his heart.”

Recur

“Ma, aku berangkat ya.”
“Jadi pergi sama Reta?”
“Iya ma. Ini mau jemput.”
“Salamin ke dia ya.”
“Pasti! Assalamualaikum”
“Waalaikum salam.”

Namaku Bramasetya. Mahasiswa semester akhir jurusan ilmu sosial dan politik di sebuah universitas ternama di Bandung. Reta, nama yang tadi disebut itu,yang mempunyai nama lengkap Claretta Tatwa Anggraini adalah perempuan teman kuliahku. Ya, teman. Tapi kami sering sekali berduaan, di kampus, di mall, di cafe. Reta anaknya manis dan punya wawasan luas. Karena itulah aku bisa betah berjam-jam menemaninya berbelanja baju atau sekedar minum es krim. Aku seolah sangat nyaman dengan kehadirannya dalam hidupku. Sepertinya mamaku juga. Kalau Reta sudah jarang ke rumah, mama pasti rajin menanyakan dirinya, bahkan beberapa kali menelepon langsung dengan alasan sudah kangen. Seandainya kami pacaran, mama pasti sudah memberikan restu untuk menikah.

Pacaran? Hampir semua orang yang melihat kami berduaan pasti menyangka kami pacaran, mengingat kedekatan kami. Tapi sebenarnya kami hanya berteman. Ya, berteman. Meskipun aku punya perasaan yang lebih dari itu, tapi aku tak tahu apa dia juga punya rasa yang sama. Aku tak pernah menyatakan rasa ini, karena aku takut dia menolakku dan hubungan kami jadi renggang. Tapi aku juga merasa sakit hati dan cemburu ketika dia dekat dengan laki-laki lain. Aku tak tahu, mungkin memang sudah waktunya aku memperjelas status kami.

Di jalan ke rumah Reta, aku kembali melamunkan dirinya. Rambutnya yang hitam dan lurus, senyumnya yang selalu mengembangkan lesung pipit, suaranya yang tegas tapi merdu, obrolan-obrolan penuh makna kami di cafe-cafe maupun warung pinggir jalan, dan banyak hal lain yang tentunya aku suka dari dirinya. Bahkan hanya memikirkannya pun sudah membuatku tersenyum lebar. Ah, seandainya panah cupid diberikan padaku, tentu langsung kuhunjamkan satu anak panahnya ke jantung hati Reta.

Continue reading

Poringger

“Hai.”

Dia belum berubah. Kepalanya yang sedari tadi terpaut dengan gadget mendongak begitu aku menyapa. Kami beradu pandang selama beberapa detik, sebelum dia melambai dan aku duduk di hadapannya.

Ajaib sekali. Biasanya dia yang terlambat.

“Macet?” tanyanya setelah menaruh gadget-nya di ransel. Seharusnya itu pertanyaanku dan anggukan yang kuberi selalu menjadi jawabannya dulu.

Aku menghela napas panjang. Di sepanjang perjalanan tadi, aku yakin ada ratusan pick up line yang tersusun di dalam kepala. Sial, semuanya berceceran.

Hampir, karena ada satu yang selamat.

“Apa kabar?” tanya dirinya, nyaris merintih.

“Lumayan baik. Baru ke dokter buat cek kondisi terakhir.”  aku tersenyum sambil mengelus dada ku yang terbungkus hoodie cokelat. Mataku nanar melihatnya sejenak, sebelum memberanikan diri untuk kembali menatap wajahnya. “Jadi, kamu mau kasih lihat apa?”

Sebagai pihak yang membuat janji, dia langsung membongkar totebag dan mengeluarkan sebuah lunch box berwarna ungu. Alisku terangkat penasaran. Dengan kepala yang agak dicondongkan, aku memperhatikan saat dia membukanya perlahan.

“Wah.” aku membetulkan letak kacamataku. “Apa ini? Siapa yang bikin?”

“Aku juga nggak tahu harus sebut apa. Monster omelet mungkin?” Dia tertawa miris. “Dua telur, tomat giling, sedikit terigu….”

Dia mengambil sendok dan kemudian berkata. “Cobain mau  ya?”

Seharusnya aku tidak melakukan ini. Maksudku, merekam setiap gerak saat dia menyendok monster omelet, menyuap ke mulutku, dan mengusap pelan remah-remahnya dibibirku. Kedua tanganku terkepal di bawah meja. Tidak, jangan sekarang, batinku. Tapi, semakin kuat mataku merekam gerakan tangannya, semakin kencang degup hati ini terasa. Bahuku berguncang. Dia terus menyuapiku. Sesekali melontarkan gumaman.

Sampai di suapan terakhir, dia terisak. Sendoknya nyaris terlepas.

“Kamu kenapa?” tanyaku, setengah berbisik.

Continue reading

Forfeiture

“Ini foto mama pas kapan?”

“Oh itu pas mama lagi hamil kamu”

“Kalau yang ini foto pas aku udah lahir ya?”

“Iya ini foto kamu waktu baru berusia delapan hari”

“Melahirkan itu sakit gak sih mah?”

“Ya sakit lah. Tapi begitu kamu lahir rasa sakitnya langsung ilang kok”

“Maaf ya mah,baru lahir aja,aku udah bikin sakit mamah”

Premonition #3

Damar
Sini gue ajarin sesuatu. Setiap laki-laki,betapapun brengseknya,betapapun sudah tidak terhitung lagi berapa perempuan yang sudah dia tiduri, pasti punya satu perempuan yang dia anggap seperti gunung Everestnya. The one he really wants to climb. Shit,I’m sorry, that sounds wrong ya. Maksudnya begini, satu perempuan itu ibaratnya gunung Everest bagi si pendaki, rasanya hidup belum lengkap kalau belum pernah menaklukan puncak gunung yang ini. That still sounds wrong?Yeah well, I’m kind of terrible person at analogy. Gini deh gampangnya : satu perempuan yang sebenarnya dia cintai setengah mati di luar semua wanita yang pernah dia tiduri itu. The one that is not just statistic. Continue reading