Premonition #2

Damar

“Dengerin apa sih dari tadi?”

“Tenors“, jawabnya. “Grigolo Bocelli.”

“Seriously?gak nyangka kamu punya selera musik klasik juga. Tipe wanita yang suka musik-musik jadul gitu ya”

Dia tertawa. ‘Ngebales nih ya.”

“Which song?”

‘Sekarang?Tau duetnya Bocelli sama Ramazzoti?”

“Emmm,Nel Cuore Lei?

“Kok tau sih?” Laksmi menatapku dengan takjub

“Kenapa?kamu pikir aku cuma dengerin Miles Davis sama John Coltrane doang ya?” aku tertawa

“You keep surprising me, Damar”

“Puoi solo dire,che piu ti fa soffrire, piu ancora l’amerai” aku bersenandung pelan.

“Heh,barusan itu apa? Don’t tell me you can speak Italian too” ucap Laksmi sambil menepuk bahuku.

“Gini-gini aku pernah ikut course bahasa Italia kali waktu SMA”

“Boong banget” ucap Laksmi masih tak percaya.

“Oh by the way,bait terakhir tadi. Masih mau artinya apa?”

Laksmi mengangguk

Continue reading

Premonition #1

Damar

Biar kuberitahu kau sebuah rahasia: Aku bisa jatuh hati pada seseorang hanya karena namanya.

Baru-baru ini, aku berkenalan dengan seseorang bernama Laksmi. Begitu tahu makna di balik namanya, aku jadi berdebar-debar. Ia pun jadi tampak sepuluh kali lipat lebih menarik, padahal dia pacar orang.

Aku biasanya juga akan kagum pada orangtuanya, yang memilih kata-kata yang tak biasa untuk merangkai doa-doa baik dan disematkan seumur hidup dalam sebuah nama. Lagipula, andai harapan itu terkabul, pastilah anak mereka menjadi orang baik. Siapa tahu, dengan begitu, ada yang bisa dijadikan teman hidup yang baik pula.

Tapi, untuk soal itu, aku punya cerita tersendiri.

Laksmi

Aku masih teringat saat ia mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya: Damar.

Menjawab ekspresi heranku, ia tersenyum, menjelaskan, “Dari bahasa Sansekerta, artinya ‘penerang’.”

Tak butuh waktu lama bagi Damar untuk lantas menjadi secercah cahaya yang terbit di hatiku, mengisi dan menghangatkan setiap sudut ruangnya. Tapi, kemudian ia ternyata menjadi terang yang menyilaukan.

Aku sempat berpaling sejenak untuk menjernihkan pandangan, tapi aku malah tak bisa menemukan penerangku kembali. Habis terang terbitlah gelap, dan aku pun kehilangan arah lagi.

Namun aku percaya, perih di jari-jariku yang habis terkena api ini akan menjadi kenang-kenangan, bahwa aku pernah berupaya menyalakan lilin demi menerangi jalanku sendiri.

Emissary

Suatu malam dalam percakapan Blackberry Messenger.

08:15 PM PING!!!

08:16 PM Iya?

08:16 PM Sibuk gak?

08:16 PM Enggak kok. Kenapa?

08:17 PM Lagi apa?

08:18 PM Ini lagi di balkon,I need fresh air

08:18 PM Masih galau?

08:24 PM Pertanyaannya bikin marah ya?

08:26 PM PING!!!

08:26 PM PING!!!

08:28 PM Dibaca tapi enggak dibales. Marah? Maaf deh.

Continue reading

Coequal

“Buku yang kemarin dibeli udah dibawa?”

“Udah kok. Ini “ ucapku seraya menunjukan buku dengan cover berwarna biru dengan gambar koper di tengahnya

“Yaudah, kamu buruan masuk ruang boarding gih. Aku pulang aja”

“Enggak nunggu sampai pesawatku take off?”

“Ngeliat kamu ngejauh tiga langkah aja rasanya sedih deh”

“Hehehe. Coba liat ke atas”

Dia mendongak

Warnanya apa?” tanyaku seakan memberi pertanyaan pada anak TK yang baru belajar mengenal warna

“Agak oranye”

“Di Jakarta waktu jam segini warna langitnya juga agak oranye gitu kok. Jangan sedih, selama kita masih ngeliat warna langit yang sama. Disini tetap akan sama” ucapku seraya menunjuk dada.

Setengah jam kemudian pesawat terbang itu menembus senja menuju barat.

 

Eventually

Orang bilang saya terlalu lemah pada perempuan. Mereka bilang saya terlalu mudah jatuh cinta dan memberikan hati. Beberapa sisanya bilang saya tak bisa membedakan sayang, perhatian berlebih, nafsu, dan cinta.  Kalian boleh saja menganggap saya memang tak mengerti cinta sesungguhnya. Tapi lantas kenapa? Kalau saya dan perempuan yang saya cinta sudah sepakat saling memberi dan menjaga hati, bukanlah hal-hal lain bisa dipikirkan belakangan? Dengan cinta, kita bisa lakukan semua. Dengan cinta, tak ada yang tak seru. Semua kita jalani bersama. Pahit manisnya, hitam putihnya, baik dan buruknya. Sesederhana itulah pemikiran saya pada cinta.

Hingga malam itu kekasih saya mengajak bertemu. Kami adalah sepasang kekasih. Bukanlah hal yang luar biasa kalau di malam minggu seperti ini dia mengajak saya bertemu. Biasanya kami menonton film di bioskop, sering juga cuma sekadar makan malam sederhana di rumahnya, lalu nonton DVD, dan begitu jarum jam menunjuk angka 11, saya berpamitan pulang. Tentu saja setelah mencium lembut bibirnya.

Tapi kali ini beda. Dia mengajak saya bertemu di toko kaset. Saya sering sekali lewat jalan ini. Tapi entah kenapa baru sekarang saya sadar kalau di sini ada toko kaset. Kira-kira seperti ini gambarannya. Dinding depan toko ini dicat coklat, ada jendela kaca besar bertuliskan ‘Recordia’, empat dinding dalam ruangannya yang dicat warna berbeda, satu etalase besar di tengah ruangan berisi banyak kaset, CD, dan majalah musik, dan tiga rak yang berisi piringan hitam musik-musik klasik dengan cover yang sudah kusam warnanya.

“Kenapa semalam nggak menelepon?” kekasih saya akhirnya memulai pembicaraan.
“Aku banyak kerjaan, sayang.”
“Tapi pulsa juga banyak kan?”
“Semalam aku menelepon kok. Kamu sudah tidur.”
“Kenapa nggak telepon lebih awal?”
“Oh. Jadi gara-gara ini seharian ini kamu jadi diem nggak jelas?”
“Yang nggak jelas itu kamu!”

Oke. Ini dia. Kekasih saya yang tukang ngambek ini mulai mengeluarkan kalimat-kalimat yang menjurus ke arah pertengkaran kecil dan tidak penting. Tidak tidak. Saya tidak boleh terpancing. Saya harus membujuknya. Saya harus minta maaf. Mengajaknya makan mungkin adalah hal yang bagus. Siapa tahu setelah kenyang dia jadi berkurang marahnya.

“Kita makan dulu yuk.”
“Nggamao.”

Yeah! Yeah! Rupanya dia setingkat lebih ngambek sekarang.

“Kita makan nasi goreng yuk.”
“Nggak.”
“French fries McDonald deh.”
“Nggak.”
“Es Krim! Es Krim!”
“Nggak.”
“Bubur ayam?”
“!@#$%^&*”
Kurang lebih begitulah kejadiannya. Setelah dialog di atas sebenarnya masih banyak lagi kalimat-kalimat pembelaan saya yang dimentahkan begitu saja oleh pacar saya yang cantik tapi tukang ngambek ini. Tapi menuliskannya di sini? Oh tidak bisa. Ini sudah masuk ranah pribadi kami. Masalah saya dan kekasih saya seharusnya hanya diketahui kami berdua. Kalian tidak perlu tahu banyak. Lagipula tadi juga sudah saya ceritakan sedikit kan?

Jadi inilah akhirnya. Kekasih saya yang cantik, tukang ngambek, dan suka membuat orang bingung itu balik kanan, kemudian berjalan keluar dan meninggalkan saya yang terbengong-bengong tanpa sepatah katapun.

“Saatnya kuberkata. Mungkin yang terakhir kalinya..”

Ah ya. Ah ya. Ah ya. Toko kaset ini memutar lagu yang tepat di saat yang kurang tepat. Ini lagunya Peterpan bukan? Kalau tak salah lagu ini muncul sekitar tahun 2004, atau 2005 ya? Saya tidak ingat.

“Lagu ini,” tanyaku pada gadis yang sedari tadi berdiri di balik meja kasir. “Apa judulnya?”
“Mungkin Nanti, Peterpan.”
“Hmm..”
“Mungkin saja kau bukan yang dulu lagi,” gadis itu bersenandung pelan mengikuti lagu.
“Mungkin saja rasa itu telah pergi,” lanjutku sambil tersenyum.

Aku membalikkan badan dan mulai berpikir untuk mengejar pacarku yang mungkin belum jauh dari sini. Masih terdengar jelas suara gadis penjaga kasir itu menyanyikan bait pertama di bagian reff.

“Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi..”

Scribble

Aku masih ingat apa jawabanku ketika kamu bertanya sekali padaku, “apa yang kamu benci? apa yang kamu cintai?”

Kamu tau, aku terkejut dan mungkin merona merah untuk menjawab pertanyaanmu, “aku benci perpisahan, aku jatuh cinta pada musim semi.” Kamu tertawa, sambil menikmati angin hangat dan bunga-bunga yang baru bermekaran itu. Dan rasanya ingin sekali aku meralat jawabanku dulu, aku jatuh cinta pada tawamu. Dan beberapa musim semi yang kulewati dengan tawamu.

Tapi di bandara ini, dalam malam yang cerah ini, di mana pesawatmu menunggu sabar di sana. Kamu di depanku, rapuh. Sesuatu yang tak pernah kuingat ketika aku menjadi bagian dari kamu, atau kamu bagian dari aku.

Mungkin mata kita yang berbicara, tanpa suara. Kita tahu apa yang harus kita lakukan, keputusan yang tidak mungkin bisa kita hindari, sekarang atau nanti.

Aku menarik nafas panjang sebelum melepasmu ke ruang boarding, aku adalah masa lalumu. Selesai sudah. Tidak bisa lebih dari ini. Kamu telah memutuskan apa yang selama ini kamu bimbangkan. Pelukan terakhir kamu terasa dingin, dan aku menatap kosong pada punggungmu yang semakin menjauh.

Aku masih ingat apa jawabanku ketika kamu bertanya sekali padaku, “apa yang kamu benci? apa yang kamu cintai?”

Dan rasanya ingin sekali aku meralat jawabanku dulu, aku benci pada undangan pernikahanmu.

Stupefy

I think that possibly, maybe I’m falling for you

Yes there’s a chance that, I’ve fallen quite hard over you

I’ve seen the paths that your eyes wander down I want to come too

Diam. Tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka. Laki-laki dan perempuan itu terlihat kikuk dan tidak nyaman. Berkali-kali mereka mencoba membetulkan posisi duduknya. Sang laki-laki menggaruk-garuk hidungnya dengan canggung. Sang perempuan memainkan jemari-jemari lentiknya.

“Kau tahu…” laki-laki itu membuka suara. “Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.”

“Aku juga.” Kata sang perempuan.

Continue reading

Excursion

Arya masih duduk di terminal bus sembari melihat orang yang berlalu lalang. Hari ini Arya akan pergi ke Jakarta dari Yogyakarta naik bus. Perjalanan ke sana kira-kira 12 jam. Dua belas jam perjalanan tidak menjadi masalah untuk Arya.

Jam di terminal menunjukan pukul tujuh malam. Setengah jam lagi bus siap untuk berangkat. Arya mencoba menahan rasa bosan dengan membaca buku dari Yann Martel sambil melihat orang di sekitar. Sepertinya perjalanan ini bisa dinikmati dengan sukacita dan penuh perenungan.

Di sinilah Arya berada. Lagu di headphone memainkan Many The Miles-nya Sara Bareilles. Duduk di atas bus menuju Jakarta. Bus pun berjalan perlahan-lahan,dengan resmi membuka perjalanan panjang ini. Ya,akhirnya Arya ke Jakarta juga. Ada dua alasan kenapa Arya mau menempuh perjalanan panjang ini. Yang pertama karena tiket pesawat cukup mahal di musim liburan .Yang kedua adalah karena Arya ingin di dalam bus selama 12 jam ini,tanpa bacaan,tanpa kerjaan, hingga akhirnya bisa memaksa untuk berpikir.

Ya,berpikir. Berpikir tentang patah hati yang lagi-lagi datang. Biasanya,sehabis patah hati, Arya akan bersedih-sedih sejenak dan ceria seperti sedia dulu kala. Tapi ini beda,kali ini Arya telah 3 tahun berpacaran dan putus dengan sukses. Apa yang salah?Arya memang membutuhkan waktu untuk mencari tahu apa yang salah. Sama seperti seorang karakter di salah satu novel Haruki Murakami, dia waktu itu pergi ke bawah sumur tetangganya yang kering untuk berpikir tentang hidupnya. Menemukan apa yang salah juga. Mengurung diri di tempat sepi. Di dalam gelap.

Arya kembali memandang ke luar jendela. Lampu jalan sudah mulai tidak terlihat dan perjalanan bus ini mulai masuk ke tempat-tempat luar kota yang gelap. Lagu di iPod memainkan For What It’s Worth-nya The Cardigans. Lagu ini membawa ingatan Arya ke setahun yang lalu.

***

Continue reading

Glimmer

Seolah ada lampu sorot yang sengaja menyinari tubuhmu agar aku dapat dengan mudah menemukanmu, di antara berbagai pemilik punggung yang sedang berkumpul di tempat ini. Aku menangkapmu di pupil mataku, pula dirimu. Entah siapa yang terlebih dulu melempar senyum, kini yang aku tahu kita sudah duduk berdampingan di sebuah bangku kecil, jauh dari hingar-bingar band dan penontonnya.

“Maafkan aku,” katamu.

“Untuk apa? Menculikku dari keramaian?”

Kamu tertawa. Renyah, mengingatkanku pada gigitan pertama di chocolate chip cookies kesukaanku.

“Karena baru sekarang menemukanmu. Bagaimana bisa aku tak mengenalimu selama tiga tahun kita dalam circle pergaulan yang sama ?”

Aku tersenyum.

“Mungkin aku-yang-dulu tak memenuhi kriteriamu,” jawabku.

Kamu tersenyum.

Continue reading

Destiny

Dua pasang mata telah duduk ber hadapan, rindu kian lama tumpah ruah dalam sudut cafe yang mulai sepi. Untuk beberapa saat mereka tak saling bicara, hanya memandang lekat satu sama lain. Takjub.

Sang lelaki dengan kemampuan photographic memory-nya mulai memutarkan masa-masa mencintai sang wanita di depannya, memutarkan harapan yang ia tanam, tumbuh tak beraturan semakin liar. Cintanya mungkin kuat, namun bukan sifatnya untuk mempertahankan yang tidak pasti. Sang lelaki menjauh dalam diam, berusaha melupakan setiap asa yang ia punya.

Sang wanita yang tengah menata hatinya, mengumpulkan kenangan apa yang hampir dia lupakan dengan lelaki di depannya. Mempertanyakan kekosongan yang merongrong kala wanita itu tidak ada. Hanya itu saja. Perasaan sudah dia simpan, logika yang ambil peran.

Continue reading